Mengintip Prospek Saham Konglomerat di 2026, Masih Bakal Hot?
IDXChannel – Saham-saham konglomerat menjadi motor reli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2025. Bagaimana prospeknya di 2026?
Hingga penutupan perdagangan 30 Desember 2025, IHSG tercatat melonjak 22,13 persen di angka 8.646,94 selama 2025, menandai kenaikan tahunan tertinggi sejak 2017.
IHSG sukses mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high (ATH) sebanyak 24 kali pada 2025.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman mengungkapkan, puncak penguatan IHSG tahun ini berada di level 8.710,69, sekaligus mendorong kapitalisasi pasar menembus tonggak psikologis baru.
"All time high kita tercapai di 8 Desember dengan nilai 8.711, market cap kita tembus Rp16.000 triliun. Berapa kali all time high selama setahun ini? 24 kali," kata Iman dalam konferensi pers penutupan perdagangan BEI, Jakarta, Selasa (30/12/2025).
Sejumlah saham milik kelompok usaha besar mencatatkan kinerja spektakuler dan turut mengerek indeks secara signifikan.
Saham data center milik Toto Sugiri dan Anthoni Salim PT DCI Indonesia Tbk (DCII) melesat 375,06 persen secara year to date (YtD), dengan harga terakhir mencapai Rp200.000 per saham dan kapitalisasi pasar sekitar Rp476 triliun.
Dari sektor energi dan sumber daya, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mencatat kenaikan 172,97 persen sepanjang 2025, dengan harga saham bertengger di Rp101.000 dan kapitalisasi pasar mencapai Rp778 triliun. Pergerakan emiten Grup Sinarmas menegaskan dominasi emiten-emiten konglomerasi dalam menggerakkan indeks.
Reli tajam juga terlihat pada saham afiliasi konglomerat lain, yakni Grup Barito milik Prajogo Pangestu, seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang melonjak 255,43 persen hingga ke level Rp3.270, serta PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang menguat 110,43 persen ke Rp2.340 per saham.
Saham tambang emas dan batu bara milik Grup Bakrie dan Grup Salim turut menjadi kontributor penting.
Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melesat 217,92 persen ke Rp1.100, sementara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik 210,17 persen ke Rp366 per saham. Lonjakan harga komoditas, aksi korporasi, hingga prospek perbaikan kinerja fundamental menjadi katalis utama penguatan saham-saham ini.
Peluang Reli
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai saham-saham konglomerat masih berpeluang melanjutkan reli pada 2026, seiring pergeseran besar dalam struktur industri pengelolaan dana global.
Menurut dia, pasar tengah memasuki fase ketika fund pasif kian dominan dibandingkan fund aktif, baik dari sisi jumlah maupun ukuran aset kelolaan. Kondisi ini, kata Michael, membawa implikasi langsung terhadap pola alokasi investasi di pasar saham.
“Kita menyambut era di mana passive fund jumlah dan size-nya lebih besar daripada active fund,” ujarnya, pada 24 Desember 2025.
Ia menjelaskan, mayoritas fund pasif mengandalkan metode berbasis indeks dalam berinvestasi. Akibatnya, perhatian investor global akan semakin tertuju pada saham-saham yang memiliki bobot besar di indeks utama.
“Seperti yang kita ketahui, kebanyakan passive fund menggunakan metode indeks dalam berinvestasi,” kata Michael.
Dalam konteks ini, saham-saham konglomerat dinilai berada di posisi yang menguntungkan. Pasalnya, emiten-emiten tersebut umumnya memenuhi persyaratan kapitalisasi pasar minimum untuk masuk ke dalam konstituen indeks global.
“Hal ini menjadi sorotan terhadap saham-saham konglomerat yang rata-rata memiliki requirement minimal market cap cukup besar untuk bisa masuk ke dalam konstituen indeks, terutama MSCI dan FTSE,” ujarnya.
Dengan latar tersebut, Michael berpandangan tren penguatan saham konglomerasi masih berlanjut pada 2026, meski dengan dinamika yang tidak sepenuhnya sama seperti sebelumnya.
Founder WH Project William Hartanto menilai fenomena saham-saham konglomerat, yang ia juga sebut sebagai new blue chips, berpotensi mencapai fase puncak pada 2026.
“Fenomena new blue chips bisa mencapai puncaknya di 2026,” katanya, pada 24 Desember 2025.
Namun, ia mengingatkan bahwa fase tersebut justru bisa diwarnai dengan pergerakan yang cenderung melambat.
Menurut William, kejenuhan beli berpeluang membuat laju harga saham-saham tersebut tidak lagi seagresif sebelumnya.
Ia menjelaskan, pada tahap tersebut pasar berisiko memasuki fase stagnasi karena tekanan beli yang sudah terlalu kuat dalam periode sebelumnya.
Meski demikian, ia menilai saham-saham ini tetap memiliki peran strategis dalam pergerakan indeks, khususnya sebagai penopang ketika pasar terkoreksi.
William merinci, fungsi tersebut tercermin dari pola koreksi yang relatif terbatas dan diikuti oleh pemulihan harga. “Koreksi tipis, nanti rebound lagi untuk menopang indeks,” tutur dia.
Namun, ia juga mengingatkan investor untuk mencermati risiko aksi ambil untung, terutama pada fase awal tahun. “Aksi profit taking rawan terjadi di awal 2026,” ujar William. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.










