2 Negara Tetangga Indonesia Ajukan Keanggotaan BRICS Pekan Ini, Siapa Mereka?

2 Negara Tetangga Indonesia Ajukan Keanggotaan BRICS Pekan Ini, Siapa Mereka?

Ekonomi | sindonews | Senin, 8 September 2025 - 07:37
share

Myanmar secara resmi menyatakan minatnya untuk bergabung dengan BRICS, kata Kan Zaw, Menteri Investasi dan Hubungan Ekonomi Luar Negeri Myanmar. Pernyataan ini muncul setelah Laos mengumumkan niatnya untuk menjadi bagian dari kelompok negara berkembang tersebut. Dengan demikian, Myanmar dan Laos menjadi dua negara yang mengajukan permohonan keanggotaan BRICS pada minggu ini.

Kan Zaw menyampaikan Myanmar melihat keanggotaan BRICS sebagai peluang untuk mendapatkan sumber pembiayaan baru, khususnya dalam bidang teknologi. "Melalui BRICS dan kerja sama yang terjalin, kami berharap dapat memperoleh sumber pendanaan baru untuk pengembangan teknologi," ujarnya dalam sesi Forum Ekonomi Timur (Eastern Economic Forum/EEF) dikutip dari Watcher Guru, Senin (7/9).

Baca Juga:Apakah BRICS Bakal Berkembang Pesat di Tengah Intimidasi AS?

Myanmar membutuhkan dukungan finansial untuk memperkuat industri sains dan teknologi nasionalnya. Menurut Kan Zaw, bergabung dengan BRICS merupakan langkah strategis yang paling tepat untuk mencapai tujuan tersebut.

Sementara, Laos menjadi negara ke-46 yang menyatakan minatnya untuk bergabung dengan BRICS. Dari total 46 negara tersebut, 23 di antaranya telah secara resmi mengajukan permohonan keanggotaan, sedangkan 23 negara lainnya hanya menyatakan minat secara informal.BRICS mengalami perluasan keanggotaan pada tahun 2024 setelah mengundang enam negara dalam KTT BRICS 2023. Dari enam negara yang diundang, empat negara menyetujui dan resmi menjadi anggota baru BRICS, sementara dua negara lainnya, Argentina dan Arab Saudi, menolak tawaran tersebut.

Baca Juga:Ajudan Kremlin: Putin dan Trump Akan Cegah Perang Dunia III

Presiden Argentina, Javier Milei, secara terbuka mengkritik BRICS dengan menyebut kelompok tersebut sebagai "sekumpulan diktator" dan melontarkan kecaman terhadap pemimpin China, Xi Jinping; Rusia, Vladimir Putin; serta Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Di sisi lain, Arab Saudi memilih mundur secara diam-diam karena membutuhkan dukungan dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat untuk mewujudkan rencana Vision 2030 mereka.

Topik Menarik