Pesta Pora Pemilik Emas Berlanjut, Harga Diprediksi Cetak Rekor Baru Lagi

Pesta Pora Pemilik Emas Berlanjut, Harga Diprediksi Cetak Rekor Baru Lagi

Ekonomi | sindonews | Senin, 8 September 2025 - 08:35
share

Harga emas dunia diperkirakan kembali menguat pada perdagangan hari ini, Senin (8/9). Penguatan ini didorong oleh sejumlah faktor fundamental dan geopolitik.

Pada penutupan pasar pekan kemarin, harga emas dunia tercatat di level USD3.587 per troy ounce. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas berpotensi naik ke kisaran USD 3.615 pada awal pekan ini bahkan bisa menembus USD3.700 hingga akhir tahun 2025.

"Berdasarkan analisis teknikal bulanan, harga emas dunia sampai akhir tahun diperkirakan mencapai USD3.700. Jadi, ada kemungkinan besar harga pada hari Senin ini akan menuju USD3.613," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis.

Baca Juga:Harga Emas Antam Tembus Rp2,06 Juta per Gram, Sentuh Level Tertinggi dalam Sejarah

Ia menambahkan, jika harga emas menembus level USD3.613, maka pada periode September-Oktober harga emas bisa menyentuh USD3.670 dan berlanjut ke USD3.700 pada akhir tahun. Namun, Ibrahim juga mengingatkan adanya potensi koreksi harga."Jika terjadi koreksi, harga emas kemungkinan kembali ke level USD3.570, bahkan bisa turun ke USD 3.550 sebagai titik terendah," jelasnya.

Penguatan harga emas ini dipicu oleh beberapa faktor utama. Salah satunya adalah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan penurunan jumlah pengangguran hingga 4,3 juta, lebih rendah dari ekspektasi pasar.

"Data ini mengindikasikan kemungkinan besar Bank Sentral AS akan menurunkan suku bunga pada pertemuan 16-17 September mendatang. Spekulasi ini mendorong investor besar mengambil posisi beli hingga level USD 3.613 pada hari Senin," kata Ibrahim.

Selain faktor ekonomi, dinamika politik di AS juga menjadi pendorong harga emas. Pekan depan menjadi momen krusial dengan sidang banding anggota Dewan Gubernur The Fed, Lisa Cook, atas pemecatan yang dilakukan Presiden Donald Trump.

"Trump sebagai eksekutif kemungkinan besar akan menghadapi penolakan dari pengadilan, yang membuat situasi politik AS kembali memanas," tambah Ibrahim.Ketegangan perdagangan internasional juga meningkat. Trump berencana mengajukan banding atas keputusan pengadilan yang menyatakan kebijakan perang dagangnya ilegal. Selain itu, India menantang kebijakan perdagangan AS dengan mulai menggunakan mata uang regional BRICS untuk transaksi internasional.

"Trump sangat menentang penggunaan mata uang selain dolar dalam perdagangan internasional. Ada kemungkinan tarif 100 persen akan dikenakan pada negara-negara BRICS yang menggunakan mata uang regionalnya," ungkap Ibrahim.

Baca Juga:Pemilik Emas Pesta Pora, Harga Diramal Tembus di Atas Rp2 Juta per Gram

Ketegangan geopolitik global turut memengaruhi harga emas. Presiden Rusia Vladimir Putin mengancam akan melakukan serangan besar-besaran ke Ukraina jika NATO dan AS terus mencampuri konflik tersebut.

"Putin mengancam serangan besar menggunakan drone, misil, dan senjata lainnya, yang membuat tensi geopolitik di Eropa semakin memanas," lanjutnya.Sementara, situasi di Timur Tengah juga memanas menjelang sidang PBB. AS menolak pemberian visa kepada sekitar 60 pejabat Palestina yang ingin hadir dalam forum internasional tersebut.

"Hampir 60 pejabat Palestina tidak mendapatkan visa untuk menghadiri sidang PBB. Separuh wilayah Jalur Gaza kini dikuasai pasukan Israel, yang mendapat kecaman dari Mesir dan Qatar," tutup Ibrahim.

Topik Menarik