BRICS Tolak Pembayaran Dolar AS, 50 Transaksi Gunakan Yuan China
Blok BRICS semakin mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan lintas negara anggotanya. Sebuah laporan dari lembaga pemikir independen untuk bank sentral, OMFIF mengungkapkan 50 transaksi perdagangan di antara negara-negara BRICS kini diselesaikan menggunakan yuan China dan mata uang lokal lainnya.
Pergeseran ini mencerminkan kuatnya agenda dedolarisasi yang diusung oleh BRICS, sebuah langkah secara bertahap mengurangi dominasi dolar AS di pasar global. Selain yuan China, berbagai mata uang nasional lainnya juga digunakan untuk memfasilitasi penyelesaian lintas batas, semakin memperkuat tujuan blok ini untuk mengurangi penggunaan mata uang Negeri Paman Sam.
Baca Juga:Indonesia Lanjutkan Aksi Dedolarisasi, Transaksi Mata Uang Lokal Tembus Rp191 Triliun
Dilansir dari Watcher Guru, China menjadi motor utama di balik dorongan penggunaan yuan dalam transaksi antaranggota BRICS. Sebagai contoh, sekitar 80 dari seluruh kesepakatan perdagangan antara China dan Rusia kini diselesaikan menggunakan mata uang nasional mereka, seperti yuan dan rubel.
Tren ini juga terlihat dalam hubungan bilateral lainnya. Rusia dan India telah melakukan pembayaran minyak mentah menggunakan rubel dan rupee. Langkah ini terbukti menguntungkan India, yang berhasil menghemat lebih dari USD7 miliar dalam biaya valuta asing dengan mengesampingkan dolar AS untuk perdagangan minyak dengan Rusia.Meski demikian, gambaran makroekonomi global menunjukkan perspektif berbeda. Meskipun yuan China mendominasi 50 transaksi infra-BRICS, pangsa yuan dalam total pembayaran global masih relatif kecil hanya sekitar 2.
Di sisi lain, dolar AS masih memegang kendali penuh dengan mendominasi 88 dari seluruh transaksi dan penyelesaian valuta asing global. Perbedaan yang mencolok ini menunjukkan bahwa yuan China belum berada dalam posisi untuk secara signifikan menantang dominasi dolar AS di pasar keuangan internasional.
China memanfaatkan BRICS sebagai platform untuk mengguncang hegemoni dolar AS di pasar global. Rusia dan Iran, yang juga menghadapi sanksi ekonomi dari Gedung Putih, mengikuti jejak China dalam upaya melindungi ekonomi mereka dari tekanan eksternal.
Baca Juga:Perang Kamboja dan Thailand Picu Kekhawatiran Global
Namun, tidak semua negara anggota BRICS sepenuhnya sejalan dalam agenda dedolarisasi. Beberapa negara, yang khawatir akan potensi tarif dan perang dagang dari AS masih cenderung menggunakan dolar AS untuk transaksi mereka.
India misalnya telah beberapa kali menyatakan keberatannya terhadap upaya dedolarisasi dan secara terbuka menerima penggunaan dolar AS untuk perdagangan dan penyelesaian pembayaran internasional. Sikap India menunjukkan kompleksitas dan dinamika yang ada di dalam aliansi BRICS terkait isu mata uang.










