China Habiskan Rp5.285 Triliun untuk Bangun Industri Kendaraan Listrik

China Habiskan Rp5.285 Triliun untuk Bangun Industri Kendaraan Listrik

Ekonomi | inews | Jum'at, 21 Juni 2024 - 21:50
share

BEIJING, iNews.id - China telah menghabiskan 230,8 miliar dolar AS atau setara Rp5.285 triliun selama lebih dari satu dekade untuk mengembangkan industri kendaraan listriknya, menurut analisis yang diterbitkan Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) yang berbasis di Amerika Serikat (AS).

Mengutip CNBC International , Wakil Ketua CSIS Bidang Bisnis dan Ekonomi China, Scott Kennedy menuturkan, skala dukungan pemerintah mewakili 18,8 persen dari total penjualan mobil listrik antara 2009-2023. Rasio pengeluaran terhadap penjualan kendaraan listrik telah menurun dari lebih dari 40 persen pada tahun-tahun sebelum tahun 2017, menjadi sedikit di atas 11 persen pada tahun 2023.

Temuan ini muncul ketika Uni Eropa berencana mengenakan tarif impor mobil listrik China atas penggunaan subsidi dalam produksinya. Bulan lalu, AS mengumumkan akan menaikkan bea masuk atas impor kendaraan listrik dari China hingga 100 persen.

Dia menekankan bahwa dukungan Beijing terhadap mobil listrik dalam negeri mencakup kebijakan non-moneter yang lebih menguntungkan produsen mobil dalam negeri dibandingkan produsen mobil asing. Dia juga mencatat bahwa AS belum menciptakan kondisi yang menarik seperti yang dilakukan China dalam mengembangkan industri mobil listriknya sendiri.

Ada beberapa pengecualian, namun secara umum pembuat mobil dan pemerintah di negara-negara Barat hanya bermalas-malasan dan tidak cukup agresif, katanya.

Subsidi pemerintah tidak serta merta langsung digunakan untuk pengembangan mobil. Pada tahun-tahun awal pengembangan kendaraan listrik China, Kementerian Keuangan menyampaikan bahwa mereka menemukan setidaknya lima perusahaan menipu pemerintah sebesar lebih dari 1 miliar yuan.

Kendaraan buatan China juga mendapat manfaat dari meningkatnya penetrasi mobil listrik di negara tersebut, sehingga mengurangi pasar bahan bakar yang dulunya menguntungkan bagi produsen mobil asing.

Meski begitu, Kennedy menyebut bahwa dukungan pemerintah yang dan pertumbuhan pasar untuk perusahaan kendaraan listrik China belum meningkatkan keuntungan secara signifikan.

"Perusahaan akan lebih berhati-hati dalam mengukur investasi mereka dalam kapasitas baru, dan munculnya kesenjangan antara penawaran dan permintaan kemungkinan besar akan mengakibatkan konsolidasi industri," ucapnya.

Adapun, laba bersih BYD per mobil telah menurun selama 12 bulan terakhir hingga setara dengan 739 dolar AS, menurut analisis CLSA pada kuartal pertama 2024. Sementara, Tesla telah turun menjadi 2.919 dolar AS.

Industri kendaraan listrik pada tahun lalu menghadapi perang harga yang intens, dimana perusahaan mobil memangkas harga atau meluncurkan lini produk dengan harga lebih rendah.

Pemerintah AS telah meningkatkan upayanya untuk mendukung mobil listrik. Undang-Undang (UU) Pengurangan Inflasi, yang ditandatangani menjadi UU pada Agustus 2022, mengalokasikan 370 miliar dolar AS untuk mempromosikan teknologi ramah lingkungan.

UU tersebut memberikan kredit sebesar 7.500 dolar AS untuk pembelian mobil listrik yang memenuhi syarat. Hal ini berbeda dengan rata-rata dukungan China untuk setiap pembelian mobil listrik sebesar 4.600 dolar AS pada tahun 2023, turun dari 13.860 dolar AS pada tahun 2018.

Topik Menarik