BI Diramal Tahan Suku Bunga Acuan di Level 6,25 Persen, Ini Alasannya

BI Diramal Tahan Suku Bunga Acuan di Level 6,25 Persen, Ini Alasannya

Ekonomi | inews | Rabu, 22 Mei 2024 - 08:44
share

JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia diprediksi menahan suku bunga acuan di level 6,25 persen. Hal ini disampaikan oleh Ekonom Makro Ekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky atas dasar beberapa bahan pertimbangan.

Pertimbangan pertama, inflasi umum Indonesia melambat menjadi 3,00 persen (yoy) pada bulan April 2024, turun dari 3,05 persen (yoy) pada bulan sebelumnya dan merupakan perlambatan pertama sejak bulan Desember 2023.

"Berkat meredanya El-Nino dan intervensi aktif oleh Pemerintah, inflasi umum turun ke 3,00 persen (yoy) di April 2024 dari 3,05 persen (yoy) di bulan sebelumnya," kata Riefky dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (22/5/2024).

Adapun inflasi umum turun ke 3,00 persen (yoy), didorong oleh meredanya El-Nino, berakhirnya periode Idul Fitri, dan keberhasilan pemerintah dalam mendorong kecukupan pasokan komoditas pangan.

Pada Triwulan I-2024, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,11 persen (yoy), naik dari 5,04 (yoy) pada Triwulan IV-2023, yang merupakan tingkat pertumbuhan tertinggi sejak Triwulan III-2023.

Selain itu, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan sebesar 3,56 miliar dolar AS pada April 2024, mengalami kontraksi sebesar 9,60 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan turun 22,26 persen (m.t.m) dari surplus Maret 2024 sebesar 4,58 miliar dolar AS.

Pada bulan April 2024, ekspor Indonesia kembali pulih dengan pertumbuhan positif sebesar 1,72 persen (yoy) menjadi 19,62 miliar dolar AS, yang merupakan kenaikan tahunan pertama sejak Juni 2023.

Dari sisi eksternal, indikasi meredanya tekanan perekonomian di AS, turunnya tensi geopolitik, dan bauran kebijakan BI mendorong masuknya arus modal dan memicu stabilnya nilai tukar Rupiah.

Sesuai perkiraan, the Fed menahan suku bunganya di pertemuan FOMC pada 30 April 1 Mei 2024 di 5,25 persen - 5,75 persen, menandakan untuk keenam kalinya the Fed menahan suku bunga.

Didorong oleh indikasi meredanya tekanan perekonomian AS seiring rilis data di awal Mei lalu dan meredanya tensi geopolitik, arus modal masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Lebih lanjut, langkah BI menaikkan suku bunga dan intervensi aktif melalui berbagai instrument, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), juga memberikan daya tarik tambahan terhadap arus modal ke pasar obligasi domestik.

"Namun, berkat rilis data ekonomi AS, besarnya transaksi SRBI, dan termaterialisasinya dampak dari kenaikan suku bunga kebijakan, imbal hasil 1-tahun turun drastis dari 6,74 persen ke 6,29 persen di 19 Mei 2024," ujarnya.

Arus modal masuk neto dalam beberapa minggu terakhir mendorong penguatan Rupiah sebesar 1,4 persen (m.t.m) dan saat ini berada di level Rp15.950/dolar AS dari Rp16.250 per dolar AS di 19 April lalu.

Lebih lanjut, penurunan ketidakpastian global dan berbagai langkah yang diambil oleh BI mampu mendorong arus modal masuk ke pasar keuangan domestik yang mampu menguatkan dan menstabilkan nilai tukar rupiah.

Dengan demikian, menurut Riefky, setelah BI memutuskan menaikkan suku bunga kebijakan di bulan lalu, nampaknya tidak ada urgensi saat ini untuk mengubah suku bunga kebijakan di Rapat Dewan Gubernur Mendatang.

"Kami berpandangan BI perlu menahan suku bunga acuannya di 6,25 persen pada Mei 2024," ucap Riefky.

Topik Menarik