Bahasa Jawa sebagai Representasi Sopan Santun Semakin Luntur?

Bahasa Jawa sebagai Representasi Sopan Santun Semakin Luntur?

Ekonomi | BuddyKu | Sabtu, 7 Oktober 2023 - 09:03
share

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM- Dengan pengaruh digital dan perubahan sosial, komunikasi menjadi kebutuhan primer yang pasti dilakukan baik secara virtual maupun langsung. Selain itu, bahasa juga mengalami perubahan dan penambahan kosa kata baru.

Bahasa merupakan alat komunikasi untuk menyampaikan ide, gagasan, dan pemikiran kepada orang lain. Bahasa lahir dari kesepakatan kelompok yang diwariskan secara turun temurun demi eksistensi sebuah bahasa dalam kelompok tersebut.

Masyarakat Jawa dikenal dengan unggah ungguh dan tata kramanya. Bahasa Jawa merupakan bagian dari sopan santun masyarakat Jawa.

Terdapat 3 tingkat dalam Bahasa Jawa. Bahasa Jawa ngoko yang digunakan ketika beekomunikasi dengan sebaya. Bahasa Jawa krama digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Dan Bahasa Jawa krama inggil merupakan bahasa krama paling sopan dalam tingkatan Bahasa Jawa.

Masyarakat Jawa yang masih kental dengan Bahasa Jawa, terutama Bahasa Jawa krama sebagai bentuk penghormatan terhadap lawan bicara.

Lalu bagaimana dengan Bahasa Jawa? Apakah Bahasa Jawa masih familiar di telinga masyarakat Jawa?

Wong jowo, ojo ilang jowone merupakan pepatah Jawa yang artinya orang Jawa jangan sampai kehilangan jati dirinya sebagai orang jawa.

Pulau Jawa yang dijuluki sebagai pulau padat penduduk membuat Bahasa Jawa banyak digunakan. Namun, di masa sekarang bahasa Jawa menjadi bahasa yang kuno terlihat atau tidak gaul. Hal ini karena perubahan bahasa dan penilaian bahasa berpengaruh terhadap struktur sosial.

Banyak anak muda Jawa yang tidak mengerti bahkan tidak tahu bahasa Jawa. Munculnya bahasa gaul dan hilangnya Bahasa Jawa dalam keluarga Jawa membuat Bahasa Jawa menjadi asing bagi anak muda Jawa. Orang tua justru mengajarkan bahasa indonesia dan bahasa inggris dalam kehidupan sehari-hari.

Lunturnya bahasa Jawa dalam kalangan anak muda Jawa menjadi sebuah konflik internal. Contohnya konflik yang terjadi antara anak muda dan orang tua yang masih kental dengan bahasa Jawa.

Anak muda Jawa yang berkomunikasi menggunakan bahasa indonesia dianggap "sombong" dan tidak menghormati mereka yang lebih tua. Kurangnya penguasaan anak muda Jawa dalam berbahasa Jawa juga menjadi faktor konflik dalam contoh di atas.

Bagaimana dengan masa yang akan datang? Apakah Bahasa Jawa akan ditinggalkan?

Eksistensi bahasa Jawa akan tetap terjaga melalui lagu Jawa yang mempunyai banyak pendengar.

Namun, penggunaan Bahasa Jawa sebagai interaksi dalam masyarakat Jawa menjadi tugas yang harus diselesaikan bersama. Terutama dalam hal memperkenalkan Bahasa Jawa kepada generasi muda.

Topik Menarik