Hari Tani Nasional Pupuk Indonesia Ajak Petani Ikut Program Makmur
PT Pupuk Indonesia (Persero) kembali mengajak petani di seluruh negeri untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan hasil usaha tani, melalui program Makmur.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan, pertanian merupakan sektor strategis yang mendukung ketahanan pangan nasional.
Namun tahun ini, pertanian tengah menghadapi kemarau panjang dan curah hujan rendah akibat dampak dari fenomena naiknya suhu permukaan air laut atau El Nino.
Di momen Hari Tani Nasional, menjadi penyemangat kami untuk terus membantu petani menghadapi berbagai tantangan pertanian, agar produktivitas pertaniannya dapat terjaga, bahkan meningkat secara berkelanjutan, ujarnya, melalui siaran pers, Minggu (24/9).
Dengan kondisi tersebut, kata dia, salah satu upaya perseroan adalah dengan mendukung intensifikasi pertanian.
Yaitu, dengan menyediakan pupuk subsidi sesuai alokasi, meningkatkan ketersediaan pupuk non-subsidi di berbagai daerah, memberikan rekomendasi pemupukan yang tepat.
Sehingga, meningkatkan kualitas pengelolaan lahan melalui program Makmur.
Ia menjelaskan, program ini merupakan ekosistem yang menghubungkan petani dengan sejumlah perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Makmur bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani dari hasil usaha tani.
Lebih lanjut Rahmad menjelaskan, petani yang bergabung dalam ekosistem Makmur akan mendapat banyak manfaat.
Mulai dari bimbingan teknis dan budidaya, kepastian pasokan benih dan pupuk non subsidi, asuransi untuk melindungi dari ancaman gagal panen, kemudahan akses modal melalui perbankan, hingga jaminan pembelian hasil usaha tani dengan harga kompetitif.
Pengawalannya sangat lengkap dari hulu hingga hilir pertanian. Karena Makmur adalah ekosistem pertanian berbasis mandiri dengan pupuk nonsubsidi, jelas Rahmad.
Hingga Agustus 2023, pihaknya telah menjalankan program Makmur di atas lahan seluas 226.299 hektar (Ha), atau 131 persen dari target 172.667 hektar.
Produktivitas juga meningkat, seperti padi naik rata-rata 14 persen, jagung naik rata-rata 23 persen, tebu naik rata-rata 27 persen, kopi naik rata-rata 48 persen dan sawit naik rata-rata 7 persen, jelas Rahmad.
Adapun, program singkatan dari Mari Kita Majukan Usaha Rakyat ini, diluncurkan Menteri BUMN Erick Thohir pada tahun 2021.
Selain program Makmur, pihaknya juga terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada petani, melalui pemanfaatan teknologi.
Mulai dari digitalisasi distribusi dari produsen ke kios hingga menerapkan pertanian presisi, yaitu memberikan rekomendasi pemupukan secara tepat, baik melalui drone bahkan citra satelit.
Bahkan, pihaknya bersama Kementerian Pertanian (Kementan) juga terus meningkatkan tata kelola pupuk bersubsidi.
Salah satunya, lewat uji coba aplikasi i-Pubers di enam provinsi di Indonesia. Dengan aplikasi ini, petani menjadi lebih mudah menebus pupuk di kios, karena cukup menunjukkan KTP saja, terangnya.
Di kesempatan yang sama, seorang petani hortikultura komoditi kentang asal Dieng Mifta Huda berharap, program Makmur dapat menjawab berbagai kendala yang dihadapi petani.
Rahmad menuturkan, beberapa kendala yang dimaksud adalah pemenuhan kebutuhan pupuk hingga akses pasar. Menurutnya, produktivitas kentang di Indonesia belum maksimal dan masih kalah saing dengan produk impor.
Kita sadar, pendapatan kita itu fluktuatif karena dihadapkan dengan produk-produk luar negeri, seperti kentang impor. Kita berharap, ada pembinaan untuk kentang dalam negeri sehingga bisa bersaing, tuturnya.
Karenanya, dengan program Makmur yang menggunakan pupuk nonsubsidi ini, diharapkan dapat menjawab kendala yang selama ini dihadapinya.
Kami berharap, program Makmur juga dapat digenjot ke berbagai pelosok negeri, tandas Rahmad.









