Langkah Menteri Erick Tak Rombak Direksi Pertamina Dinilai Tepat

Ekonomi | sindonews | Published at Sabtu, 29 Agustus 2020 - 19:22
Langkah Menteri Erick Tak Rombak Direksi Pertamina Dinilai Tepat

JAKARTA - Langkah Menteri BUMN Erick Thohir untuk tidak melakukan perombakan terhadap direksi PT Pertamina (Persero), meski perseroan merugi hingga Rp11,13 triliun pada semester I-2020, dinilai tepat.

Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto menilai kerugian yang dialami Pertamina pada semester I tahun ini disebabkan kondisi eksternal. Di mana, dalam kondisi di luar kendali yang disebabkan oleh Covid-19 sehingga penurunan demand domestik terjadi.

"Direksi Pertamina baru bekerja dalam satu tahun terakhir. Kondisi kinerja pertamina semester I pun lebih banyak disebabkan kondisi eksternal yang bersifat uncontrollable sehingga penurunan demand domestik karena pandemi Covid-19," ujar Toto saat dihubungi, Jakarta, Sabtu (29/8/2020). (Baca juga: Rugi Bersih Pertamina Itu Terendah, Bandingkan dengan Raksasa Migas Dunia)

Oleh karena itu, lanjut Toto, langkah yang ditempuh Erick Thohir untuk tidak buru-buru mengganti direksi perusahaan plat merah tersebut dinilai tepat.

Dia bilang, sebaiknya Menteri BUMN memberikan kesempatan kepada manajemen Pertamina untuk memaksimalkan kinerjanya untuk pemulihan di semester ke-II tahun ini. Dengan begitu, harapan adanya perbaikan revenue dapat direalisasikan pada paruh kedua 2020.

Meski demikian, Toto mengutarakan bahwa perbaikan revenue juga harus didorong oleh pemerintah melalui pembayaran kompensasi. Di mana, utang kompensasi pemerintah sebesar Rp96 triliun dan utang subsidi Rp13 triliun yang belum dibayarkan.

"Harapan perbaikan revenue dari pembayaran kompensasi pemerintah terkait subsidi BBM yang sudah dianggarkan dalam PEN 2020, dapat memperbaiki sisi demand karena stimulus ekonomi diharapkan sudah berjalan," ujar dia. (Baca juga: Imunisasi Covid-19 Bakal Digratiskan, Ini Harapan Netizen)

Sementara itu, perbaikan efisiensi perusahaan dapat dilakukan dengan renegosiasi utang jatuh tempo serta penjadwalan ulang proyek strategis yang menelan Capital Expenditure (capex) atau belanja modal yang besar. "Diharapkan dengan langkah-langkah ini, maka kinerja di tahun 2020 (semester II) bisa membaik," katanya.

Sebelumnya, Erick Thohir menegaskan bahwa dirinya belum berniat melakukan perombakan ataupun pergantian manajemen BUMN di sektor energi tersebut. Bahkan, dirinya menilai kinerja perseroan masih cukup bagus.

"Pertamina kan ruginya kelihatan, kalau kita perbandingkan dengan Exxon dengan ENI (Perusahaan Migas Italia), jauh lah. Justru, perusahan yang lain itu jauh lebih rugi dari Pertamina. Saya prinsipnya angkat direksi jangan diganti-ganti. Kan, saya di awal sudah bilang selama KPI-nya (Key Performance Indicators) tercapai, terus dibilang Pak Erick pilih kasih main pecat-pecat saja, enggak lho," ujar Erick usai melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR, Jakarta, Kamis (27/8/2020).

Erick menyebut, pergantian direksi maupun komisaris hanya dilakukan bila KPI dari sejumlah perusahaan plat merah berada di bawah standar yang ditetapkan.

Terkait hal ini, dia bilang, KPI Pertamina cukup baik, apalagi di tengah kondisi Covid-19 belum terjadi kesenjangan minyak di berbagai wilayah di Indonesia. (Baca juga: Cerita Pasien Corona Sembuh, dari Minyak Kayu Putih hingga Avigan)

Lebih jauh, kata dia, Pertamina pun terus melakukan efisiensi di berbagai sektor. Dia mencontohkan, Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) yang ditargetkan konsolidasi dalam waktu singkat mampu dilakukan oleh Pertamina.

Meski begitu, Erick mengatakan, apa yang dilakukan oleh perseroan hari ini belum tidak bisa disebut sempurnah. Karena itu, pihaknya akan tetap memberikan waktu kepada Pertamina untuk lebih memaksimalkan kinerja keuangannya.

"Pertamina juga masih on progres dalam pembangunan baik kilang minyak dan macam macam. Karena kondisi Covid-19 ini juga baru, semua terdampak," kata dia.

Artikel Asli