Loading...
Loading…
Disentil Menko Airlangga Proyek Masela Mandek Produksi Migas Melorot

Disentil Menko Airlangga Proyek Masela Mandek Produksi Migas Melorot

Powered by BuddyKu
Ekonomi | RM ID | Jumat, 25 November 2022 - 06:34

Proyek Blok Masela belum juga menemui titikterang kapan bakal dimulai. Padahal, investoryang mau mengelola proyek gas Lapangan Abadi di Maluku ini cukup banyak.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyoroti lambannya pengembangan proyek gas Lapangan Abadi, Blok Masela di Maluku.

Menurut Airlangga, sejak rencana pengembangan ( Plan of Development /PoD) disetujui Pemerintah pada 16 Juli 2019, hingga kini proyek yang dikelola Inpex Corporation tersebut tidak mengalami kemajuan signifikan.

Airlangga menilai, untuk mengebut pengembangan Blok Masela, setidaknya diperlukan berbagai upaya untuk mendorong minat investor. Antara lain, memberikan kemudahan dalam berinvestasi hingga insentif, baik fiskal maupun nonfiskal.

Kami melihat beberapa project , termasuk Blok Masela ini kelihatannya mengalami keterlambatan. Apakah regulasi-regulasi yang ada cukup efektif dalam mendorong? Bila belum efektif, tentu perlu dilakukan revisi, kata Airlangga dalam acara International Convention and Indonesian Upstream Oil and Gas (IOG) 2022, kemarin.

Ketua Umum Partai Golkar ini melihat, mandeknya Blok Masela menjadi salah satu contoh produksi minyak dan gas (migas) bumi Indonesia yang juga mengalami penurunan.

Pasalnya, Pemerintah telah menargetkan produksi minyak 1 juta barel minyak per hari. Sayang, produksi saat ini kian menurun.

Selain itu, kata Airlangga, Pemerintah juga terus mendorong transisi energi yang mengarah kepada energi baru terbarukan. Hal ini merupakan keniscayaan yang harus dihadapi bersama, agar investasi di hulu migas tetap berjalan kondusif.

Target tersebut sangat berpengaruh pada penerimaan negara di APBN, dan ekspor Indonesia, ucapnya.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengakui, investor yang mau mengelola Blok Masela sebenarnya cukup banyak.

Baru-baru ini, kata Dwi, perusahaan migas asal China, PetroChina Company Ltd, menyatakan berminat berinvestasi di Blok Masela. Dengan demikian, sudah ada empat perusahaan yang tertarik menggarap megaproyek migas tersebut. Selain Pertamina, Petronas, dan ExxonMobil.

Tapi masih menunggu hasil studi masing-masing kontraktor dari blok itu, ungkapnya.

Dwi menjelaskan, ditargetkan sudah ada keputusan final perusahaan yang masuk ke Blok Masela untuk menggantikan Shell akhir tahun ini.

Direktur eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan, proyek Blok Masela ini berkali-kali diubah POD-nya, serta perencanaan pengerjaannya. Kondisi inilah yang berakibat pada mundurnya Shell dari proyek Blok Masela.

Ini memberikan dampak luar biasa, adanya perubahan terhadap pelaksanaan proyek. Setahu saya, POD-nya belum ditandatangani Pemerintah. Yang terakhir ini masih direvisi lagi, ujarnya.

Tak hanya itu, Blok Masela juga merupakan proyek yang membutuhkan dana cukup banyak. Calon investor pengganti Shell di Blok Masela harus merogoh kocek sekitar 1,4 miliar dolar AS.

Besaran investasi ini belum termasuk kebutuhan pendanaan sebesar 6,3 miliar dolar AS untuk lima tahun pertama pengembangan sebagai modal belanja.

Selain itu, dengan adanya penambahan proyek Carbon Capture Utilization & Storage (CCUS) pada proyek Masela, juga terdapat potensi penambahan investasi sekitar 1,2-1,4 miliar dolar AS lagi.

Mamit juga meminta agar SKK Migas bertindak tegas, segera ada keputusan yang bisa diambil terkait kelanjutan proyek ini.

SKK Migas sebagai garda terdepan pengelolaan industri hulu migas Indonesia harus bekerja keras untuk mencarikan solusi, agar proyek ini bisa segera berjalan.

Tetap harus berusaha. Kan punya target. Mereka ini tulang punggung dan garda terdepan pengelolaan hulu migas. Jangan teralu banyak kegiatan seremonial, tetapi bagaimana bisa menarik investasi di sektor hulu migas, ucapnya. [KPJ]

Original Source

Topik Menarik

{