Loading...
Loading…
Penyaluran Kredit Berpotensi Terjegal Inflasi dan Kenaikan Suku Bunga

Penyaluran Kredit Berpotensi Terjegal Inflasi dan Kenaikan Suku Bunga

Powered by BuddyKu
Ekonomi | IDX Channel | Kamis, 11 Agustus 2022 - 17:13

IDXChannel - Kenaikan inflasi di Indonesia dikhawatirkan memicu kenaikan suku bunga acuan dari bank sentral sehingga menghambat penyaluran kredit di sisa 2020.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan peningkatan inflasi Indonesia dalam tiga sampai empat bulan terakhir cenderung didorong faktor sisi suplai, sejalan dengan gejolak kenaikan harga dan inflasi harga diatur pemerintah.

Kenaikan suku bunga Bank Indonesia pada umumnya direspons dengan kenaikan suku bunga perbankan, baik suku bunga Dana Pihak Ketiga (DPK) dan suku bunga kredit.

"Meskipun kenaikan suku bunga kredit cenderung lebih terbatas. Saat ini suku bunga acuan BI masih berada di level 3,5 persen," jelas Josua dalam diskusi virtual Kini Paham Kredit #3, dikutip Kamis (11/8/2022).

Data IdScore menunjukan sejak Februari 2022, terjadi tren peningkatan portofolio kredit, baik anggota IdScore maupun non anggota yang disebabkan oleh pemulihan ekonomi dan suku bunga yang rendah.

Nilai portofolio kredit rata-rata anggota selama satu tahun terakhir tercatat sebesar Rp3.379,66 triliun, lebih tinggi Rp395,52 triliun daripada rata-rata portofolio non anggota. Sedangkan Nilai tertinggi portofolio kredit terjadi sebelum pandemi (Februari 2020) sebesar Rp6.887,02 triliun.

Adapun semenjak pandemi portofolio tertinggi terjadi pada Mei 2022 sebesar Rp6.731,27 triliun dengan pertumbuhan 0,53% dibandingkan bulan sebelumnya dan tumbuh 8,08% dibandingkan tahun lalu.

Direktur Utama IdScore, Yohanes Arts Abimanyu, menjelaskan melihat situasi inflasi dan prediksi kenaikan suku bunga, BI mulai melakukan normalisasi yang mengarah ke pengetatan kebijakan moneter.

"Kondisi ini akan mempengaruhi penyaluran kredit di semester II tahun 2022, kata Abimanyu.

Menurut Abimanyu, standar penyaluran kredit yang lebih ketat diperkirakan terjadi pada jenis kredit modal kerja, kredit konsumsi selain Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dan kredit Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM).

Sementara itu, aspek kebijakan penyaluran kredit yang diperkirakan lebih ketat dibandingkan sebelumnya terkait plafon kredit, jangka waktu kredit, premi kredit berisiko, dan agunan.

Original Source

Topik Menarik