Dukung Zero Carbon Emissions Di 2050 Tata Metal Lestari Komit Terapkan Industri Ramah Lingkungan

Dukung Zero Carbon Emissions Di 2050 Tata Metal Lestari Komit Terapkan Industri Ramah Lingkungan

Ekonomi | BuddyKu | Rabu, 15 Juni 2022 - 08:14
share

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong seluruh sektor manufaktur di Indonesia dalam penerapan prinsip industri hijau. Langkah strategis tersebut diyakini mampu mendukung terciptanya industri yang ramah lingkungan dan berdaya saing di kancah global.

Standar Industri Hijau (SIH) memiliki 2 tujuan. Pertama, untuk peningkatan daya saing dari sisi cost (biaya) yg berefek kepada peningkatan utilisasi, sehingga pada saatnya akan benar-benar meningkatkan seluruh faktor daya saing (QCD) baik dipasar dalam negeri maupun dipasar global, ujar Kepala Pusat Industri Hijau, Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, Herman Supriadi usai meninjau fasilitas produksi Baja Lapis Aluminium Seng (BJLAS) milik PT Tata Metal Lestari (Tatalogam Group) di Cikarang, Bekasi, akhir pekan lalu.

Menurutnya dua hal tersebut untuk pemenuhan komitmen bangsa ini dalam menjaga keberlangsungan bumi tempat tinggal kita.

Herman menjelaskan, industri hijau adalah industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan.

Pada prinsipnya, industri hijau ini mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberi manfaat bagi masyarakat dengan konsep perputaran ekonomi (Circular Economy), ujar Herman dalam keterangan yang diterima RMid, Selasa (14/6).

Herman mengatakan ada 2 hal penting yaitu terkait manajemen dan yang kedua dari sisi teknis. Teknis ini meliputi bahan baku, energi, proses produksi, penanganan limbah, dan lain sebagainya.

Dalam proses penanganan limbah contohnya ini ada pilihan langkah, yaitu mendesain agar limbah ini jadi lebih sedikit atau dengan penanganan yang baik sehingga konsep circular economy terlaksana.

Manajemen juga harus terkelola dengan baik dan transparan seperti manajemen energi, bahan baku dan lainnya yang terlibat dalam proses produksi.

Usai melihat secara langsung ke fasilitas produksi PT Tata Metal Lestari, Herman mengapresiasi penerapan Industri Hijau yang telah dilakukan oleh produsen BJLAS dan BJLS dengan merek dagang Nexalume, Tatalume dan Nexium itu. Mulai dari penerapan mesin berteknologi tinggi yang dapat meminimalisir munculnya emisi, hingga pengolahan limbah yang berdampak pada circular economy .

PT Tata Metal Lestari sudah menyiapkan hal infrastruktur Standar Industri Hijau. Dari sisi teknologi di Tata Metal Lestari ini sudah jauh lebih baik sehingga sudah menuju ke arah industri hijau. Kemudian satu hal lagi yang menarik adalah mereka telah menerapkan prinsip 3P, yaitu People, Profit, Planet. Prinsip ini sesuai dengan konsep industri hijau, ujar Herman.

Herman mengatakan, sudah menjadi tugasnya nanti untuk menentukan apakah standar yang telah dijalankan di PT Tata Metal Lestari bisa diacukan sebagai Standar Industri Hijau Nasional Baja Lapis atau tidak.

Untuk itu kedatangannya ke pabrikadalah untuk merumuskan Standar Industri Hijau yang bisa diterapkan secara nasional.

Vice President PT Tata Metal Lestari (Tatalogam Group), Stephanus Koeswandi sangat mengapresiasi langkah pemerintah sebagai regulator yang menaruh perhatian khusus pada perancangan dan penegakan Standar Industri Hijau untuk produk BJLAS dan BJLS yang saat ini tengah digodok.

Ia mengatakan, saat ini produk BJLAS sudah banyak digunakan dengan berbagai peruntukkan, seperti atap dan baja ringan. Karena itu, sektor industri ini juga harus sudah mulai memperhatikan dampak lingkungan yang timbul dalam proses produksinya.

Dari sisi bisnisnya, produk yang sudah menerapkan Standar Industri Hijau akan dapat meningkatkan daya saingnya. Dapat digunakan di proyek-proyek strategis nasional, untuk perumahan, bahkan pasar global, ujar Stephanus, Selasa (14/6).

Dari sisi kelestarian lingkungannya, menurutnya standar Industri Hijau yang tengah digodok pemerintah ini juga sejalan dengan program menuju 2050 Zero Carbon Emissions.

Kami sangat mengapresiasi pemerintah sebagai regulator yang sudah selangkah lebih maju dalam hal ini, terang Stephanus.

Lebih lanjut Stephanus menjelaskan, berbagai upaya telah dilakukan perusahaan yang ia pimpin untuk menyokong target 2050 Zero Carbon Emissions melalui penerapan industri hijau. Langkah mendasar yang pertama dilakukan adalah dengan merubah Key Performance Indicator (KPI) perusahaannya.

Yang pertama kami, PT Tata Metal Lestari dan Tatalogam Group lakukan adalah merubah KPI-nya. Yang tadinya hanya berfokus kepada 1 yaitu profit, kini kita rubah menjadi 3P yaitu People, Profit, Planet, ujar Stephanus.

Perusahaan tidak hanya fokus mengejar keuntungan semata, namun juga menekankan pentingnya tanggung jawab kami terhadap lingkungan sekitar termasuk orang-orang yang terlibat dalam bisnis, dan tentunya terhadap planet bumi yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita nantinya.

Untuk pabrik yang sudah ada, Stephanus mengatakan penggunaan listrik tenaga surya ini diakuinya sudah menggantikan listrik tenaga konvensional hingga 5-10 persen.

Efisiensi ini terus kami tingkatkan di pabrik baru yang terletak di Sadang, Purwakarta, pungkas Stephanus.

Topik Menarik