Loading...
Loading…
Harga Minyak Dunia Naik Dipicu Inflasi dan Lockdown China

Harga Minyak Dunia Naik Dipicu Inflasi dan Lockdown China

Ekonomi | inewsid | Jumat, 13 Mei 2022 - 11:46

JAKARTA, iNews.id - Harga minyak mentah dunia naik pada perdagangan hari ini, Jumat (13/5/2022). Meski menguat, harga minyak dunia masih dalam fase penurunan sepanjang pekan ini terpicu sentimen inflasi dan lockdown di China yang mengancam permintaan.

Data bursa Intercontinental Exchange (ICE) Jumat (12/5/2022) hingga pukul 10:13 WIB menunjukkan, harga minyak Brent Juli 2022 naik 1,06 persen di 108,59 dolar AS per barel. Sedangkan Brent Agustus 2022 menguat 1,06 persen di 107,11 dolar AS per barel.

West Texas Intermediate (WTI) Juni 2022 di New York Mercantile Exchange (NYMEX) menanjak 0,97 persen di 107,16 dolar AS per barel, sementara WTI Juli 2022 tumbuh 1,02 persen di 105,46 dolar AS per barel.

Selain itu, pasar juga masih dibayangi kabar larangan Uni Eropa terhadap pasokan minyak Rusia. Hal ini dinilai bakal semakin melemahkan permintaan, saat Kremlin memberikan balasan sanksi terhadap perusahaan gas di Eropa.

"Faktor kekhawatiran permintaan telah tumbuh," ujar Analis Komoditas Commonwealth Bank, Vivek Dhar, dilansir Reuters , Jumat (13/5/2022).

Inflasi dan kenaikan suku bunga yang agresif telah mendorong dolar AS ke level tertinggi 20 tahun. Saat dolar sedang mengangkasa, maka membuat minyak lebih mahal bagi pembeli yang memegang mata uang lain.

Baca Juga :
Kekhawatiran Resesi Global, Harga Minyak Dunia Anjlok

"Minyak masih didorong oleh kekhawatiran pasokan karena Rusia mengambil langkah maju mempersenjatai energi," ucap Managing Partner SPI Asset Management Stephen Innes.

Sebuah laporan Badan Energi Internasional (IEA) pada Kamis (12/5/2022) mengatakan, peningkatan produksi minyak di Timur Tengah dan Amerika Serikat diharapkan dapat mengisi defisit pasokan yang timbul akibat terhentinya stok Rusia.

Badan tersebut mencatat produksi Rusia akan turun hampir 3 juta barel per hari (bph) mulai Juli, atau sekitar tiga kali lebih banyak daripada yang saat ini dipindahkan. Ini bakal terjadi apabila sanksi untuk perang terhadap Ukraina semakin diperluas atau jika Rusia menghalangi pembelian dari negara-negara Eropa.

Original Source

Topik Menarik