Loading...
Loading…
Harga Minyak Dunia Tembus USD93/Barel, Level Tertinggi dalam 7 Tahun

Harga Minyak Dunia Tembus USD93/Barel, Level Tertinggi dalam 7 Tahun

Ekonomi | okezone | Sabtu, 05 Februari 2022 - 07:36

JAKARTA - Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam tujuh tahun pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB). Harga minyak memperpanjang reli mereka ke minggu ke tujuh, di tengah kekhawatiran yang sedang berlangsung tentang gangguan pasokan yang dipicu oleh cuaca dingin AS dan gejolak politik yang sedang berlangsung di antara produsen utama dunia.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret bertambah USD2,16 atau 2,4%, menjadi menetap di USD93,27 per barel setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak Oktober 2014 di USD93,70 per barel.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS terangkat USD2,04 atau 2,3%, menjadi ditutup di USD92,31 per barel setelah diperdagangkan setinggi USD93,17, tertinggi sejak September 2014.

Brent mengakhiri minggu ini dengan 3,6% lebih tinggi, sementara WTI membukukan kenaikan 6,3% dalam reli terpanjang sejak Oktober. Lonjakan pasar dipercepat dalam dua hari terakhir karena pembeli menumpuk ke dalam kontrak minyak mentah, dipicu ekspektasi bahwa pemasok dunia akan terus kesulitan untuk memenuhi permintaan.

Harga minyak mentah, yang telah reli sekitar 20% sepanjang tahun ini, kemungkinan akan melampaui USD100 per barel karena permintaan global yang kuat, kata ahli strategi pasar minggu ini.

Mencerminkan pandangan bullish itu, pengelola uang menaikkan posisi beli bersih minyak mentah berjangka AS dan posisi opsi dalam seminggu hingga 1 Februari sebesar 6.616 kontrak menjadi 304.013 kontrak, kata Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC).

Namun, beberapa melihat risiko reli. Citi Research mengatakan pihaknya memperkirakan pasar minyak akan berubah menjadi surplus segera setelah kuartal berikutnya, mengerem reli.

"Lonjakan menuju minyak mentah USD100 tidak boleh dikesampingkan dalam jangka pendek, tetapi risiko penurunan berlimpah, termasuk kemunduran Omicron pada permintaan, kekhawatiran pertumbuhan ekonomi dan koreksi pasar keuangan karena bank sentral memerangi inflasi," kata Bjrnar Tonhaugen, kepala pasar minya Rystad Energy.

Original Source

Topik Menarik