Evergrande Diperintahkan Robohkan 39 Bangunan di Hainan, Kenapa?

Ekonomi | inewsid | Published at Kamis, 06 Januari 2022 - 08:57
Evergrande Diperintahkan Robohkan 39 Bangunan di Hainan, Kenapa?

BEIJING, iNews.id - Media China melaporkan pada akhir pekan lalu, pihak berwenang di Provinsi Hainan memerintahkan Evergrande untuk merobohkan 39 bangunan di proyek raksasanya, Ocean Flower Island.

Penyebabnya, dikutip dari CNN Business , karena izin bangunan yang diperoleh pengembang properti itu ilegal. Perusahaan mengakui perintah tersebut dalam sebuah postingan di WeChat pad Senin (3/1/2021) malam.

Kendati demikian, mereka menjelaskan, perintah merobohkan 39 bangunan itu tidak mempengaruhi bangunan lain di proyek properti yang sama, yang melibatkan sekitar 61.000 pemilik properti. Ke-39 bangunan tersebut merupakan bagian dari proyek raksasa Ocean Flower Island milik Evergrande di Hainan, di mana perusahaan telah menginvestasikan hampir 13 miliar dolar AS selama enam tahun terakhir.

Menyusul hal itu, perusahaan menangguhkan perdagangan sahamnya di Hong Kong pada Senin lalu. Dalam pengajuan ke Bursa Efek Hong Kong pada Selasa (4/1/2022), perusahaan menyatakan akan melanjutkan perdagangan, dan menegaskan mereka akan aktif berkomunikasi dengan pihak berwenang tentang proyek Ocean Flower Island dan menyelesaikan masalah dengan benar.

Saham Evergrande melonjak 10 persen setelah perdagangan dimulai pada sore hari dan ditutup naik 1,3 persen. Sementara dalam pengajuan pada Selasa, Evergrande juga menyatakan telah mengantongi penjualan kontrak sebesar 70 miliar dolar AS sepanjang 2021. Angka itu turun 39 persen dibanding 2020.

Mengenai likuiditas, perusahaan menegaskan akan aktif menjaga komunikasi dengan kreditur, berusaha untuk menyelesaikan risiko, serta menjaga hak dan kepentingan yang sah semua pihak.

Evergrande, yang merupakan pengembang properti terbesar kedua di China berdasarkan penjualan pada 2020 tengah menghadapi kewajiban utang sebesar 300 miliar dolar AS. Bahkan perusahaan berjuang mengumpulkan uang tunai untuk membayar kreditur, dan ketua perusahaan Hui Ka Yan dilaporkan telah menjual aset pribadi untuk menopang keuangan perusahaan. Tapi itu sepertinya tidak cukup untuk menghindari default.

Pada Desember lalu, Fitch Ratings menyatakan perusahaan gagal membayar utang, dan menurunkan peringkatnya karena ketidakmampuan Evergrande untuk membayar bunga jatuh tempo obligasi berdenominasi dolar AS pada bulan itu.

Sementara analis telah lama khawatir runtuhnya Evergrande dapat memicu risiko yang lebih luas di pasar properti China, merugikan pemilik rumah, dan sistem keuangan yang lebih luas. Industri properti dan terkait menyumbang 30 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) China.

Federal Reserve AS memperingatkan pada November 2021, masalah di sektor properti China dapat mengganggu ekonomi global. Adapun pemerintah Beijing telah membantu Evergrande melakukan restrukturisasi utang dan operasi bisnis. Namun, para analis memperingatkan krisis properti tetap menjadi ancaman yang membayangi China.

Artikel Asli