Nasdaq Anjlok 3,36 Persen setelah Rilis Risalah The Fed

Ekonomi | inewsid | Published at Kamis, 06 Januari 2022 - 07:20
Nasdaq Anjlok 3,36 Persen setelah Rilis Risalah The Fed

NEW YORK, iNews.id - Wall Street berakhir terkoreksi tajam pada perdagangan Rabu (5/1/2022) waktu setempat, dengan indeks Nasdaq anjlok lebih dari 3 persen. Penurunan ini terjadi setelah rilis risalah rapat Federal Reserve AS atau The Fed yang mengisyaratkan bank sentral mungkin harus menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diharapkan.

Indeks S&P 500 kehilangan 92,86 poin atau 1,94 persen menjadi berakhir pada 4.700,49 poin, sedangkan Nasdaq Composite merosot 524,89 poin atau 3,36 persen menjadi 15.097,83, yang merupakan penuruna harian terbesar sejak Februari 2021. Sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 387,47 poin atau 1,05 persen menjadi 36.412,18.

Indeks S&P 500 dan Nasdaq dengan cepat memperpanjang penurunan mereka setelah risalah yang dipandang investor lebih hawkish daripada yang dikhawatirkan. Sedangkan Dow, yang mencapai rekor tertinggi pada hari sebelumnya, berbalik arah dan juga ditutup lebih rendah.

Risalah dari pertemuan kebijakan Fed pada 14-15 Desember menawarkan rincian lebih lanjut tentang pergeseran bank sentral bulan lalu menuju kebijakan moneter yang lebih ketat untuk mengekang inflasi. Pembuat kebijakan menyatakan pada bulan lalu, pasar tenaga kerja AS sangat ketat.

"Ini lebih hawkish dari yang diharapkan. Pergeseran ke arah hawkish ini bisa menjadi masalah bagi pasar saham dan obligasi," kata Kepala Investasi di Lenox Wealth Advisors di New York David Carter, dikutip dari Reuters , Kamis (6/1/2022).

Sektor teknologi S&P 500 adalah hambatan terbesar pada indeks S&P 500. Sementara sektor properti yang sensitif terhadap suku bunga memimpin penurunan di antara sektor. Kenaikan suku bunga meningkatkan biaya pinjaman untuk bisnis dan konsumen. Tarif yang lebih tinggi dapat menekan kenaikan saham, terutama untuk teknologi dan saham lainnya.

Indeks keuangan S&P 500 juga berakhir lebih rendah, sehari setelah mencatat penutupan tertinggi sepanjang masa.

Para pembuat kebijakan pada Desember lalu setuju untuk mempercepat akhir dari program pembelian obligasi era pandemi, dan mengeluarkan perkiraan yang mengantisipasi kenaikan suku bunga tiga perempat poin persentase selama 2022.

Artikel Asli