Cukai Rokok Naik, Potensi Turunkan Daya Beli

Ekonomi | lombokpost | Published at Selasa, 28 Desember 2021 - 15:08
Cukai Rokok Naik, Potensi Turunkan Daya Beli

MATARAM -Pemerintah menaikkan cukai rokok pada 2022 menjadi 12 persen. Pengamat Ekonomi Universitas Mataram Firmansyah menilai, kebijakan ini dapat berdampak pada kelesuan dari sisi belanja masyarakat.

Penikmat rokok tak akan dengan mudah berhenti mengonsumsinya. Bukannya memperkecil alokasi uang untuk membeli rokok. Yang dikhawatirkan justru perokok akan memilih mengurangi alokasi kebutuhan belanja lainnya. Saya khawatirkan dia berdampak pada pembelanjaan kebutuhan yang lain, ujarnya.

Alokasi tersebut juga bisa saja memiliki dampak yang semakin besar. Misalnya, pada titik parah, pengurangan alokasi belanja kebutuhan hanya akan membuat stunting pada anak, dan kemiskinan pun bertambah. Daya beli juga akan semakin terkoreksi. Apalagi masyarakat sudah menganggap rokok ini sebagai kebutuhan. Meski sejatinya kebijakan kenaikan cukai rokok karena mempertimbangkan pengendalian konsumsi rokok, tenaga kerja, penerimaan negara, hingga pengawasan cukai illegal. Namun nyatanya hal ini justru masih berpotensi menimbulkan dampak baru yang lain.

Lihat saja dari harga yang sudah dinaikkan, gambar seram di bungkusnya, tapi belum bisa mengurangi kebutuhan mereka untuk merokok, katanya.

Ia meyakini, pembelian rokok kalangan menengah ke bawah masih amat tinggi. Jika kenaikan cukai belum mencapai 20-30 persen, maka taraf beli masyarakat akan produk ini tetap berjalan. Apalagi masih ada bantuan dari pemerintah yang masih cukup untuk mendorong daya beli komoditas ini.

Firmansyah menilai, kenaikan cukai rokok maupun pengurangan daya beli masyarakat tak akan terlalu banyak terkoreksi. Sebab NTB masih punya pendorong yakni perhelatan MotoGP mendatang. Dengan catatan, MotoGP benar berlangsung di NTB dan semua lapisan masyarakat ikut merasakan dampak positifnya, tegasnya.

Terpisah, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) NTB Sahminuddin mengatakan, naiknya CHT memang sudah direncanakan pemerintah sejak 16 Agustus lalu. Rencananya kenaikan 11,92 persen dengan target penerimaan negara dari PAD saja Rp 203,94 triliun dan belum termasuk pajak rokoknya. Hal ini, kata Sahminuddin, jelas akan menurunkan omzet penjualan dari tingkat petani, karena kebutuhan akan tembakau terus berkurang. Hampir 98 persen tembakau NTB dihasilkan sebagai bahan baku rokok. Ekonomi baru menggeliat, sudah naik tinggi saja CHT ini, keluhnya. (eka/r9)

Artikel Asli