Libur Nataru: Prokes Diperketat, Jumlah Penumpang Turun

Ekonomi | jawapos | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 12:45
Libur Nataru: Prokes Diperketat, Jumlah Penumpang Turun

JawaPos.com Strategi pengetatan protokol kesehatan (prokes) diklaim berhasil mengantisipasi pergerakan penumpang pada masa libur Natal dan Tahun Baru 2022 (Nataru). Jumlah penumpang tercatat turun pada hari pertama aturan diberlakukan.

Merujuk pada data Jumat (24/12), menurut Juru Bicara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Adita Irawati, semua moda angkutan mengalami penurunan jumlah penumpang dibanding hari biasa.

Misalnya, pada angkutan jalan. Jumlah pergerakan penumpang mencapai 46.632 orang. Turun 5,3 persen jika dibandingkan dengan rata-rata hari biasa.

Kemudian, pada angkutan penyeberangan, tercatat jumlah pergerakan penumpang sebanyak 72.286 orang. Jumlah itu menurun 15,6 persen bila dibandingkan dengan rata-rata hari biasa (85.719 orang). Begitu pun angkutan udara. Tercatat, ada 117.629 orang atau menurun 26,3 persen jika dibandingkan dengan rata-rata hari biasa (159.594 orang).

Pada angkutan kereta api, jumlah penumpang menurun 1,33 persen dengan total 54.344 orang dibanding hari biasa. Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, terdapat penurunan maupun peningkatan jumlah penumpang di setiap moda angkutan, ujarnya kemarin (25/12).

Pada masa libur Nataru kali ini, kata Adita, Kemenhub memantau pergerakan penumpang di 48 terminal, 22 pelabuhan penyeberangan, 50 bandara, 51 pelabuhan, dan 13 daop/divre yang tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia. Dia mengingatkan, pada masa libur Nataru, prokes wajib diterapkan. Masyarakat yang bepergian harus mematuhi sejumlah ketentuan. Baik itu terkait dengan vaksinasi Covid-19 dengan dosis lengkap, negatif tes antigen 1 x 24 jam, maupun penggunaan aplikasi PeduliLindungi. Karena kita tidak ingin terjadi kenaikan kasus Covid-19 seusai libur Nataru, tegasnya.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai, momen Nataru menjadi ujian sesungguhnya bagi Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19. Mengingat, peningkatan mobilitas masyarakat terjadi hampir di seluruh kota besar.

Dia mendorong pemerintah untuk memberikan vaksin SARS-CoV-2. Terutama di wilayah pusat ekonomi seperti Jakarta. Saya kira Nataru ini tes sesungguhnya. Kalau kita mampu melewati Nataru (dengan kasus harian yang tetap rendah, Red), tentu saja akan lebih baik. Itu necessary condition, katanya.

Menurut dia, pemberian vaksin booster bakal mempercepat pembentukan kekebalan komunal (herd immunity). Dengan begitu, masyarakat lebih terlindungi dalam melakukan aktivitas sosial maupun ekonomi. Ini dilakukan agar kita betul-betul bisa secara bertahap membuka sektor-sektor ekonomi seperti di Jakarta, tutur lulusan Iowa State University, AS, tersebut.

Perry menilai, Jakarta memiliki peran strategis dalam mengerek perekonomian nasional. Dari sektor keuangan, outstanding kredit di ibu kota mencapai 29 persen dari total kredit nasional. Jumlah simpanan masyarakatnya juga menyumbang porsi 49 persen dari seluruh simpanan di lembaga jasa keuangan. Begitu pula sistem pembayaran di Jakarta yang menyumbang transaksi nontunai terbesar dengan 61 persen hingga kuartal III 2021. Angka tersebut meningkat dari bukuan pada pengujung 2020 yang sebesar 60 persen. Jumlah pengguna QRIS di Jakarta juga sangat besar dengan catatan 18,8 persen dari total 2,6 juta merchant, jelasnya.

Kondisi perekonomian nasional saat ini terbilang mulai pulih. Salah satunya tecermin dari bangkitnya kinerja sektor manufaktur yang menjadi indikator berikutnya. Purchasing managers index (PMI) manufaktur pada November 2021 berada di zona ekspansif, yaitu 53,9. Kinerja sektor konsumsi dan ekspor swasta juga meningkat serta belanja fiskal terjaga. Sejalan dengan mobilitas yang terus meningkat, pembukaan ekonomi yang semakin luas, dan stimulus kebijakan yang berlanjut.

Permintaan kredit modal kerja mulai mampu mengejar pertumbuhan kredit konsumsi. Kredit modal kerja naik 2,6 persen YoY menjadi Rp 2.538,2 triliun per September 2021. Pertumbuhan kredit konsumsi naik 2,9 persen YoY menjadi Rp 1.638,2 triliun. Artinya, ekonomi perlahan mulai bergerak lagi. (mia/han/c14/fal)

Artikel Asli