Sri Mulyani: Aset Eks BLBI Jangan Jadi Tanah Liar dan Diserobot

Ekonomi | limapagi.id | Published at Kamis, 25 November 2021 - 14:20
Sri Mulyani: Aset Eks BLBI Jangan Jadi Tanah Liar dan Diserobot

LIMAPAGI - Pemerintah terus mengejar hak tagih negara dari obligor dan debitur eks Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang mencapai Rp110,45 triliun. Saat ini, aset yang sudah dikumpulkan baru mencapai Rp492,2 miliar.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, aset eks BLBI tersebut dihibahkan kepada Pemerintah Kota Bogor Rp345,7 miliar dan tujuh Kementerian dan Lembaga (K/L) Rp146,5 miliar. Dia berharap, seluruh aset tersebut bisa dikelola dengan cermat sehingga bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi masyarakat luas.

Dia mewanti-wanti agar aset tersebut jangan sampai dibiarkan terbengkalai. Dia mencontohkan, aset eks BLBI berupa tanah wajib dimanfaatkan sehingga tidak menjadi tanah liar dan menimbulkan aksi penyerobotan.

"Pengelolaan aset (eks) BLBI juga menjadi penting. Jadi jangan sampai kita hanya mengambil aset kemudian tanahnya menjadi tanah liar dan kemudian bisa diserobot lagi oleh berbagai pihak," kata Sri Mulyani dalam Pendantanganan Perjanjian Hibah BLBI di Jakarta, Kamis 25 November 2021.

Dia juga menginstruksikan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk memikirkan langkah-langkah tertentu dalam pengelolaan aset-aset yang sudah diambil alih. Aset-aset tersebut diyakini bisa berdampak ganda baik bagi masyarakat atau perekonomian setempat jika dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

"Karena juga sangat penting untuk bisa menimbulkan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Akan lebih bagus, akan menciptakan juga dampak terhadap masyarakat ekonomi dan juga kesempatan kerja," ujarnya.

Lebih lanjut Sri Mulyani menyatakan, jumlah hak tagih negara dari aset eks BLBI yang baru bisa dikumpulkan masih jauh dari target. Tercatat, hak tagih yang dikumpulkan hingga saat ini mencapai Rp492,2 miliar.

"Kita semuanya tahu bahwa hak tagih negara dari para obligor dan debitur itu mencapai Rp110,45 triliun. Jadi kalau hari ini baru sekitar setengah triliun itu masih jauh banget. Masih banyak yang harus dikerjakan," ucapnya.

Artikel Asli