Dampak La Nina ke Tanaman Perkebunan Diantisipasi

Ekonomi | koran-jakarta.com | Published at Kamis, 25 November 2021 - 08:55
Dampak La Nina ke Tanaman Perkebunan Diantisipasi

JAKARTA - Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Ditjenbun Kementan) mengupayakan berbagai langkah penanganan atau pencegahan pada subsektor perkebunan untuk mengantipasi dampak fenomena La Nina. Salah satu strateginya melalui kegiatan mitigasi dan adaptasi.

Direktur Perlindungan Perkebunan Kementan, Ardi Praptono menuturkan secara umum komoditas perkebunan ditanam di daerah lahan kering dan ditanam pada areal dataran tinggi, serta memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan tanaman pangan maupun hortikultura, yang mana kondisi tanaman perkebunan lebih kuat.

"Sehingga apabila terjadi bencana alam akibat fenomena La Nina, seperti banjir, angin puting beliung, tanah longsor, banjir bandang dan serangan OPT (organismen pengganggu tumbuhan) tidak berdampak secara signifikan terhadap tanaman perkebunan, namun akan berpengaruh terhadap produksi," kata Ardi di Jakarta, Rabu (24/11).

Dampak negatif fenomena La Nina terhadap subsektor perkebunan di Indonesia, antara lain terjadinya eksplosi OPT khususnya berbagai penyakit akibat jamur, serangan hama tikus dan penurunan mutu hasil produksi perkebunan serta terjadi banjir pada lahan perkebunan terutama pada lahan gambut, karena lahan gambut merupakan lahan yang sensitif untuk ditanami komoditas perkebunan.

Karena itu, Ditjenbun fokus mendorong kegiatan adaptasi dengan fokus pada aplikasi teknologi adaptif seperti penyesuaian pola tanam, teknologi pengelolaan lahan, pupuk, air dan lain-lain. Sedangkan, kegiatan mitigasi merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana, yang terdiri dari antisipasi, saat bencana (tanggap darurat), dan pasca bencana.

Kegiatan adaptasi dan mitigasi oleh Ditjen Perkebunan diaplikasikan pada kegiatan demplot kebun dampak perubahan iklim (DPI) dalam bentuk pembangunan embung, lubang biopori, rorak dan ternak kambing dan Pembentukan desa organik berbasis komoditi perkebunan.

Artikel Asli