Investasi Jangkar Pemulihan Ekonomi

Ekonomi | koran-jakarta.com | Published at Kamis, 25 November 2021 - 08:41
Investasi Jangkar Pemulihan Ekonomi

JAKARTA - Investasi saat ini menjadi jangkar pemulihan ekonomi yang tengah tertekan akibat dampak pandemi Covid-19. Sebab, anggaran pemerintah di semua negara mengalami tekanan berat menyusul penurunan penerimaan akibat pandemi.

"Investasi menjadi jangkar pemulihan ekonomi karena APBN semua negara juga sama, berat, defisit, semua defisit," jelas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sambutannya pada acara peresmian pembukaan Rapat Koordinasi Nasional dan Anugerah Layanan Investasi 2021, di Jakarta, Rabu (24/11), yang disaksikan melalui tayangan virtual.

Kepala Negara menyampaikan terkait urusan defisit ini, semua negara memiliki kekhawatiran yang sama, yakni apabila defisit yang terjadi dikembalikan ke kondisi normal, akan terjadi tekanan kembali. "Ini pandemi dampaknya betul-betul ke mana-mana, ke semua titik ada semua. Bareng-bareng, bayangkan, puluhan ribu triliun direm bareng-bareng karena ingin kembali ke defisit yang normal kembali, ini juga mengkhawatirkan, tapi belum ada kalkulasinya," kata Presiden Jokowi.

Presiden menekankan Indonesia tidak bisa terlalu fokus pada APBN, meskipun Menteri Keuangan Indonesia menurut Presiden, sudah sangat berhati-hati dalam mengelola APBN. "Karena itu, yang di luar APBN ini harus digerakkan. Kembali lagi, investasi," jelasnya.

Seperti diketahui, Kementerian Investasi/ Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, sepanjang Januari-September 2021, realisasi investasi mencapai 659,4 triliun rupiah, atau setara 73,3 persen dari target investasi tahun ini sebesar 900 triliun rupiah.

Dalam periode tersebut, secara rinci realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) di Maluku Utara mencapai 1,1 triliun rupiah dan realisasi penanaman modal asing (PMA) mencapai 1,8 juta dollar AS. Sementara itu, realisasi PMDN di Jawa Barat mencapai 45,3 triliun rupiah dan realisasi PMA mencapai 4,2 juta dollar AS.

Dampak Ganda

Menteri Investasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, menyebut nilai investasi yang besar tidak selalu sebanding dengan dampak ganda ( multiplier effect ) yang diciptakannya ke sekitar. Bahlil mengatakan hal itu terkait dengan investasi hilirisasi minerba yang saat ini tengah digenjot pemerintah.

"Katakanlah, di Maluku Utara atau Sulawesi Tengah, investasinya tidak sebesar Jawa Barat. Tapi, multiplier effect -nya di Maluku Utara dan Sulawesi Tengah itu tinggi. Jadi, nilai investasi belum tentu multiplier effect -nya masif," katanya.

Hal itu, menurut dia, merujuk hasil riset yang dilakukan bersama dengan Universitas Indonesia (UI). Bahlil menilai dampak ganda dari investasi di sektor hilirisasi lebih besar karena mampu meningkatkan lapangan kerja hingga mendorong dibangunnya pendidikan di wilayah tersebut. "Ternyata, investasi yang masuk itu belum tentu akan seproduktif sama seperti di hilirisasi," katanya.

Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebutkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) adalah sektor penting karena berkontribusi terhadap PDB sebesar 61 persen dan investasinya mencapai 60 persen dari total nasional.

Artikel Asli