Menteri Perdagangan Gandeng Aprindo Tekan Harga Minyak Goreng di Pasaran

Ekonomi | bukamatanews | Published at Minggu, 14 November 2021 - 07:47
Menteri Perdagangan Gandeng Aprindo Tekan Harga Minyak Goreng di Pasaran

BUKAMATA Pemerintah akhirnya mengambil langkah untuk menekan kenaikan harga minyak goreng di pasaran.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi bekerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) sepakat menjual minyak goreng dengan harga Rp 14.000 per liter.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni), Sahat Sinaga mengungkapkan, minyak goreng yang disediakan merupakan minyak goreng kemasan, sebanyak 11 juta liter.

"Dimasukkan ke Aprindo, alasannya ke Aprindo supaya pasar tradisional itu tidak spekulasi, kalau di Aprindo harganya bisa terjamin untuk dilepas ke konsumen seharga Rp 14.000," ujar Sahat kepada kumparan dikutip Bukamata, Minggu (14/11/2021).

Sahat melanjutkan, sistem penyaluran minyak goreng kemasan tersebut dijual secara bebas melalui pengusaha retail yang dekat dengan produsen minyak goreng dan telah melakukan order.

"Iya dijual bebas, jadi Aprindo yang dekat dengan produsen membuat order ke industri, terus dilepas. Industri membawanya ke Aprindo, Aprindo yang terdekat itu baru mereka jual, jadi sepertinya rencananya," imbuhnya.

Dia membeberkan mengapa minyak goreng kemasan yang ditetapkan harganya, karena minyak goreng curah tidak akan dijual lagi tahun depan. Sehingga saat ini pengusaha sudah mulai membatasi penjualan minyak goreng curah.

"Minyak goreng curah itu nanti dihapuskan tahun depan. Jadi mulai sekarang sudah digalakkan untuk menggunakan minyak goreng kemasan," lanjut Sahat.

Dalam penuturannya, Sahat mengatakan tidak ada pembatasan pembelian minyak goreng seharga Rp 14.000 tersebut oleh konsumen.

"Tidak (dibatasi), cuma diestimasi kira-kira saja. karena pandemi ini kan kemungkinan besar konsumen itu kebutuhannya berkurang, jadi diperkirakan 11 juta liter," tuturnya.

Terkait adanya ancaman penimbunan atau pemborongan oleh spekulan, Sahat yakin hal tersebut tidak akan mengalahkan kemampuan produsen dan tidak akan memengaruhi harga.

"Tinggal yang borong siapa yang lebih kuat, spekulan atau produsen. Saya yakin produsen lebih kuat kemampuannya," tandasnya.

Artikel Asli