90 Persen Bahan Baku Tempe Tahu Masih Diimpor, Mentan Syahrul: Lawan Yuk...

Ekonomi | radartegal | Published at Minggu, 14 November 2021 - 05:40
90 Persen Bahan Baku Tempe Tahu Masih Diimpor, Mentan Syahrul: Lawan Yuk...

90 persen bahan baku tempe dan tahu saat ini diungkapkan Menteri Pertanian (Mentan),Syahrul Yasin Limpo masih dipenuhi dari impor. Salah satu bahan baku yang dimaksud adalah kedelai.

"Tempe dan tahu 90 persen itu masih impor," kata Syahrul, Sabtu (13/11/2021).

Bahkan, kata Syahrul, bahan obat-obatan juga masih impor 90 persen. Padahal, sebagian bahan obat-obatan sebenarnya ada di dalam negeri.

"Obat 90 persen lebih impor. Padahal, itu buatan dari pertanian, tidak ada obat tanpa tumbuh-tumbuhan," ungkapnya.

Selain itu, lanjut Syahrul, 90 persen bahan baku susu juga masih impor 90. Dengan realita ini, dia mendorong berbagai pemangku kepentingan untuk mengurangi impor.

"Tidak boleh hanya impor-impor. Lawan yuk," tegasnya.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia sebenarnya tercatat surplus neraca perdagangan sebesar USD4,37 miliar per September 2021. Kendati begitu, secara total, nilai ekspor masih lebih besar dari impor.

Sedangkan terkait ketersediaan pasokan beras, Mentan Syahrul menyebutkan ada kelebihan stok beras di tengah cuaca ekstrem 5-9 juta ton. "Ada over stock dari carry over hampir di atas 5-9 juta ton per tahun," kata Syahrul, Sabtu (13/11).

Kendati stok beras terbilang aman, Syahrul tetap mengimbau pemerintah pusat dan daerah perlu melakukan delapan langkah untuk menghadapi cuaca ekstrem.

"Pertama, siapkan embung untuk menampung air hujan. Embung dibutuhkan untuk menghadapi kemarau panjang," ujarnya.

Kedua, menciptakan varietas yang bisa bertahan pada musim kemarau. Ketiga, menyiapkan bahan organik di dalam tanah. Keempat, diversifikasi tanaman selain padi. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat masyarakat.

"Jangan padi saja, ketela pohon, pisang. Jadi kenyang tidak hanya beras," imbuhnya.

Kelima, perkuat sistem integritas tanaman dengan perkebunan. Keenam, mendorong penelitian dalam menghadapi cuaca ekstrem. Ketujuh, menanam di lahan-lahan kritis.

"Jika ada lahan yang menganggur, maka bisa ditanam jagung atau ubi. Tapi harus clear tanahnya, jangan sampai kami intervensi," terangnya

Kedelapan, tanam pohon di pekarangan rumah. Hal ini dibutuhkan untuk mengikat air di bawah tanah. "Pohon-pohon besar bisa menjadi pilihan," pungkasnya. (der/zul)

Artikel Asli