Berkat Ikan, Anak Jadi Dosen

Ekonomi | jawapos | Published at Kamis, 11 November 2021 - 17:00
Berkat Ikan, Anak Jadi Dosen

JawaPos.com Pokdakan Pasundan Besemah mengelola sekitar 40 kolam yang tersebar di dua kecamatan. Sepuluh kolam di antaranya milik Endan, berlokasi di Desa Beringin Sakti dan Pagaragung. Kolam-kolam ini mengantarkan putra-putrinya hingga ke bangku kuliah.

Endan sepertinya tak ingin melupakan kampung halaman. Buktinya, meski kini mengadu nasib jauh di seberang, tepatnya di Pagaralam, Sumatera Selatan, ia menamai Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) yang dibangun bersama sejumlah rekan di sana dengan nuansa Sunda.

Bagi Endan, kunci budidaya ikan itu harus sejiwa. Pastinya bukan sekadar sejiwa dalam artian sempit, melainkan betul-betul menyatu dengan usaha yang dikelola. Harus betul-betul, kalau saya sudah sejiwa dengan usaha ikan, awal mula dari bapak sampai ke anak-anaknya, terangnya dalam perbincangan melalui telepon, Senin (8/11) kemarin.

Kesatuan jiwa itu melecut semangat yang tinggi untuk mengembangkan usaha dengan meluaskan lahan untuk kolam budidaya, termasuk membeli armada roda empat untuk memudahkan mengantar ikan hasil panen.

Ketua Pokdakan ini menjelaskan makna kata Besemah yang ternyata singkatan dari Bersih, Aman, dan Ramah. Tiga prinsip itu menjadi pegangan semenjak ia mulai menjalankan usaha dengan meminjam modal dari salah satu bank konvensional. Pun demikian, setelah ia mengenal Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP). Sejak 2019, dana pinjaman cair untuk digunakan membeli bibit dan pakan, memperluas kolam, dan kegiatan operasional.

Alhasil, saat ini, kolam terisi penuh dari yang sebelumnya tidak terlalu banyak bibit untuk pembesaran. Perubahan ekonomi sangat terasa dari ragam jenis ikan yang dibudidaya, seperti ikan mas dan nila, biasanya pembeli yang datang langsung ke kolam untuk memilih sebelum membeli.

Kalau ditaksir perbulan, penjualan ikan Pokdakan Pasundan Besemah mencapai Rp30 juta hingga 40 juta. Memang ada penurunan sepanjang pandemi ini. Yang terparah pernah sebulan hanya Rp15juta, atau anjlok 50 persen.

Alhamdulillah sekarang berangsur-angsur pulih, pembeli sudah mulai lagi, tuturnya yang yakin pandemi segera berlalu dan usahanya kembali berkembang.

Pria 54 tahun ini menceritakan kendala lain yang pernah dialaminya. Musim kemarau yang menyebabkan perkembangan ikan cenderung lambat, sehingga hasilnya menurun. Namun, menurutnya, berkat kejelian pokdakan dalam mengelola permodalan, sejauh ini aman, tidak pernah merugi total.

Endan sangat berharap usaha yang dikelolanya selama ini benar-benar mampu menopang pendidikan seluruh anaknya. Anak tiga orang kuliah semua. Yang kedua sudah jadi dosen. Berkat ikan ini semua, tuturnya bangga.

Artikel Asli