IHSG Ditutup Menguat di Tengah Tekanan Indeks Saham Asia

Ekonomi | republika | Published at Kamis, 11 November 2021 - 16:52
IHSG Ditutup Menguat di Tengah Tekanan Indeks Saham Asia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona hijau pada perdagangan hari ini, Kamis (11/11). Sepanjang hari ini IHSG bergerak variatif dan sempat naik menyentuh level 6.700 sebelum ditutup menguat sebesar 0,12 persen ke posisi 6.691,34.

Pada hari ini sebanyak 23,5 miliar lembar saham ditransaksikan dengan nilai mencapai Rp 10,7 triliun. Sementara itu investor asing membukukan pembelian bersih sebesar Rp 277,5 miliar. Kenaikan IHSG ditopang oleh sektor Transportasi & Logistik yang naik 28,85 poin serta sektor Konsumen Primer dan nergi yang masing-masing menguat 11,26 poin dan 6,93 poin.

Sementara itu indeks saham di Asia sore ini ditutup turun. Phillip Sekuritas Indonesia mengatakan indeks saham Asia tertekan oleh ketakutan atas inflasi setelah data Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS naik dengan laju tercpat sejak 1990.

"Sehingga memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS (Federal Reserve atau the Fed) akan menaikkan suku bunga acuan lebih cepat dari yang selama ini di komunikasikan oleh the Fed ke pelaku pasar," tulis Phillip Sekuritas dalam risetnya, Kamis (11/11).

Argumen tekanan inflasi hanya bersifat sementara (transitory) akibat gangguan rantai pasok yang berhubungan dengan pandemic sudah mulai di ragukan. Menurut riset, investsor mempunyai ekspektasi the Fed akan segera menaikkan suku bunga acuan setelah menyelesaikan penarikan program pembelian obligasi, yaitu sekitar pertengahan tahun depan.

Dari Asia, investor mencerna rilis data Producer Price Index (PPI) bulan Oktober Jepang yang naik 8,0 persen (YoY), lebih tinggi dari ekspektasi 7,0 persen dan laju kenaikan pada bulan sebelumnya 6,4 persen (yoy). Ini adalah kenaikan PPI selama delapan bulan beruntun dan kenaikan tertinggi sejak Januari 1981.

Mayoritas korporasi di Jepang berencana membebankan pembengkakan harga komoditas kepada konsumen. Hal ini tentu akan memberi pukulan pada konsumen Jepang yang pertumbuhan upah dan gajinya sangat rendah jika di banding dengan negara-negara maju lain.

Artikel Asli