Sempat Melandai, IHSG Ditutup Nanjak ke Level 6.691

Ekonomi | sindonews | Published at Kamis, 11 November 2021 - 15:46
Sempat Melandai, IHSG Ditutup Nanjak ke Level 6.691

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona hijau pada sesi terakhir perdagangan hari ini. Indeks ditutup naik 8,196 poin atau 0,12 persen ke level 6.691.

Pada penutupan perdagangan Kamis (11/11/2021), terdapat 248 saham menguat, 271 saham melemah, dan 154 saham stagnan. Transaksi perdagangan mencapai Rp10,23 triliun dari 23,00 miliar lembar saham yang diperdagangkan.

Indeks LQ45 turun 0,67 poin atau 0,07 persen ke 957,73, indeks JII turun 1,13 poin atau 0,20 persen ke 566,40, indeks IDX30 turun 1,11 poin atau 0,29 persen ke 507,99, dan indeks MNC36 naik 0,31 poin atau 0,0018 persen ke 323,98.

Sementara itu, saham-saham yang masuk top gainers yaitu PT Temas Tbk (TMAS) naik Rp118 atau 24,48 persen ke Rp600, saham PT Yeloo Integra Datanet Tbk (YELO) naik Rp326 atau 24,43 persen ke Rp326, dan saham PT Central Proteina Prima Tbk (CPRO) naik Rp12 atau 21,43 persen ke Rp68.

Adapun saham-saham yang masuk top losers antara lain, PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) turun Rp35 atau 6,93 persen ke Rp470, saham PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA) turun Rp150 atau 6,12 persen ke Rp2.300, dan saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) turun Rp95 atau 4,61 persen ke Rp1.965.

Sebelumnya pada penutupan perdagangan sesi pertama siang ini, IHSG melemah 2,5 poin (-0,04%) di level 6.680 setelah melesat menembus titik tertingginya sepanjang masa hingga 6.704.464 pada perdagangan sesi I, Kamis (11/11/2021).

Terdapat 221 emiten menguat, 269 yang melemah, dan 172 lainnya stagnan. Total transaksi mencapai Rp5,9 triliun dari 15,3 miliar lembar saham yang diperdagangkan.

Head of Business Development PT FAC Sekuritas Kenji Putera Tjahaja mencermati pergerakan indeks masih dalam tekanan setelah sempat naik beberapa waktu lalu. Salah satunya pemicunya dari Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang melampaui perkiraan pasar sebelumnya.

"IHSG ini cukup volatile. Diprediksi masih dalam tekanan setelah sempat naik beberapa waktu belakangan. Terkait dengan inflasi AS ini memang jauh lebih tinggi dari perkiraan karena angka CPI sebelumnya diperkirakan oleh pasar ada di angka 5,9 persen tetapi melampaui sampai di 6,2 persen," kata Kenji, Kamis (11/11/2021).

Artikel Asli