Terungkap! Ketersediaan untuk Obat Covid-19, Ini Perbandingan Antara Molnupiravir dan Paxlovid

Ekonomi | wartaekonomi | Published at Kamis, 11 November 2021 - 11:00
Terungkap! Ketersediaan untuk Obat Covid-19, Ini Perbandingan Antara Molnupiravir dan Paxlovid

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan, perusahaan farmasi yang berbasis di Amerika Serikat, Pfizer, telah memperkenalkan obat antivirus Covid-19 yang diklaim lebih berkhasiat dari Molnupiravir. Pemerintah telah mengupayakan agar 600 hingga satu juta tablet Molnupiravir bisa tiba di Indonesia pada akhir 2021.

"(Produsen) Molnupiravir sama seperti yang membuat Ivermectin. Apakah ada saingannya? Ada. Baru keluar hari ini dari Pfizer, tapi apakah dia sudah sejauh Molnupiravir mendapatkan persetujuannya? Masih agak tertinggal di belakang," kata Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IX yang diikuti dari Youtube DPR RI di Jakarta, belum lama ini.

Budi mengatakan, Molnupiravir sudah memperoleh persetujuan dari Food and Drug Administration (FDA) untuk diberikan ke orang yang terkonfirmasi positif Covid-19, namun belum masuk rumah sakit. Sejauh ini, Inggris menjadi negara pertama yang mengizinkan pemakaian obat antivirus tersebut untuk pasien Covid-19.

"Berdasarkan uji klinisnya, Molnupiravir ini bisa mengurangi 50 persen seorang masuk ke rumah sakit," katanya.

Sementara itu, produsen Pfizer mengklaim obat antivirus buatan mereka memiliki khasiat yang lebih tinggi. Dikutip Reuters pada Sabtu (6/11), Pfizer mengklaim pil antivirus eksperimentalnya bisa memangkas hingga 89 persen risiko dirawat di rumah sakit atau kematian pada pasien Covid-19 dewasa.

Menurut Budi, strategi terapeutik atau pengobatan sebagai salah satu dari empat strategi pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 memang terus bergerak. Budi mengatakan, Molnupiravir yang diproduksi Merck, perusahaan farmasi Amerika Serikat, sudah memberikan lisensi kepada delapan perusahaan di India untuk proses produksi.

"Sebab struktur industri farmasi di India kuat dan murah mulai dari hulu ke hilir sehingga alat kesehatan dan obat-obatan jauh lebih murah dari harga di dunia," katanya.

Pemberian Molnupiravir

Budi menjelaskan, nantinya tidak semua pasien Covid-19 akan mendapatkan Molnupiravir. Obat antivirus itu dapat dikonsumsi oleh pasien terkonfirmasi Covid-19 dengan tingkat saturasi oksigen di atas 95 atau bergejala ringan.

"Jadi kalau dia positif tapi saturasi masih di atas 94/95, dikasih obat ini, menurut hasil uji klinis di luar negeri 50 persen bisa sembuh. Tidak masuk ke rumah sakit," katanya.

Budi mengatakan, Molnuvirapir diberikan selama lima hari selama proses penyembuhan. Tiap hari pasien akan membutuhkan delapan tablet

"Jadi kira-kira (tiap pasien) butuh 40 tablet," katanya.

Pemberian Paxlovid

Sementara itu, CEO Pfizer Albert Bourla berjanji Paxlovid akan tersedia secara global sesegera mungkin. Pemberian pil Pfizer itu akan dikombinasikan dengan pil antivirus Ritonavir, dua kali sehari masing-masing tiga butir.

Paxlovid diharapkan bisa mendapatkan izin dari regulator Amerika Serikat pada akhir tahun. Pfizer mengatakan, akan menyerahkan laporan sementara hasil pengujian ke Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS (FDA) sebelum 25 November.

Pengujian tersebut dihentikan lebih awal berkat tingkat keberhasilan yang tinggi. Sebelumnya, Presiden Joe Biden mengatakan, pemerintah AS telah memesan jutaan dosis obat Pfizer.

"Terapi itu telah dikembangkan selama hampir dua tahun. Pil Covid-19 seperti Pfizer dan Merck sangat ditunggu-tunggu karena pilihan yang ada saat ini begitu terbatas. Data pengujian lengkap dari kedua perusahaan belum tersedia. Pfizer tengah bernegosiasi dengan 90 negara untuk memasok Paxlovid," kata Bourla.

Bagi negara-negara kaya, menurut Bourla, Pfizer berharap bisa membanderol obatnya mendekati harga obat Merck. Kontrak Merck di AS menetapkan harga Molnupiravir sekitar 700 dolar (Rp 10 juta) per terapi lima hari. Sedangkan bagi negara-negara berpendapatan rendah-menengah, Pfizer akan menawarkan sejumlah opsi agar tidak ada penghalang bagi mereka untuk juga mendapatkannya.

Pfizer berencana memproduksi 180 ribu paket Paxlovid hingga akhir tahun dan minimal 50 juta paket hingga akhir tahun depan. Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat itu tidak menyebut secara rinci efek samping Paxlovid.

Menurut Pfizer, kejadian ikutan muncul pada sekitar 20 persen pasien yang diuji. Efek samping yang mungkin terjadi di antaranya adalah mual dan diare.

Artikel Asli