Harga Tomat Anjlok, Potensi Rugi Membesar

lombokpost | Ekonomi | Published at Kamis, 14 Oktober 2021 - 13:42
Harga Tomat Anjlok, Potensi Rugi Membesar

MATARAM- Setelah cabai, kini giliran harga tomat yang tergerus. Harganya di tingkat pedagang hanya Rp 4-6 ribu perkilogram, Harga normalnya Rp 1215 ribu.

Malwi, kepala Pasar Kebon Roek mengklaim, anjloknya harga membuat pedagang terpaksa membuang tomat yang tak habis terjual. Lantaran tomat merupakan komoditas pertanian yang mudah membusuk. Jadi mau gak mau dibuang karena busuk, gak bisa diapa-apain lagi untuk besok, keluhnya, Rabu (13/10).

Harga tomat dibeli di tingkat petani hanya Rp 750 per kilogram. Satu pedagang biasanya membawa stok tomat hingga 40 kilogram per hari. Jika tomat yang terjual hanya 30 kilogram, tentu 10 kilogram sisanya harus dibuang. Untuk dilelang pun tetap tak laku. Pada dasarnya hal ini jelas membuat pedagang semakin merugi. Nasib lebih baik masih bisa dirasakan pedagang yang memilih mengolahnya menjadi aneka produk baru, seperti saus. Namun jumlahnya pun masih dapat dihitung dengan jari. Pihaknya lantas memutuskan untuk memperpanjang jam operasional pasar, dari semula hingga pukul 16.00 Wita, menjadi 18.00 Wita. Mereka yang berjualan di area dalam memilih pindah ke luar agar lebih mudah menjangkau pembeli.

Pedagang pasar kan tak bisa sediakan kulkas seperti di pasar modern, katanya.

Hal ini pun berdampak pada jumlah retribusi. Sejumlah keringanan akhirnya diberikan. Ia menduga, hal ini karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya membaik selama pandemi. Perayaan Maulid, yang diharapkan menjadi angin segar, nyatanya belum mampu mendongkrak hasil penjualan para pedagang. Padahal biasanya komoditas tomat serta aneka jenis bumbu dapur menjadi komoditas paling dicari jelang perayaan hari besar keagamaan. Padahal biasanya mulai tanggal 1 saja orang berduyun-duyun belanja, katanya.

Kepala Dinas Perdagangan NTB Fathurrahman menilai, tren anjloknya harga sejumlah komoditas merupakan hal yang wajar. Apalagi NTB merupakan salah satu daerah penghasil produk pertanian. Sementara daya serap di tingkat masyarakat menipis karena belum ada kegiatan pemantik untuk melonjakkan permintaan. Juga sektor industri yang terkait dengan kebutuhan makanan dan minuman masih belum bangkit dari pandemi. Utamanya hotel dan restoran serta rumah-rumah makan. Serapan pasarnya terbatas, yang selama ini diperuntukkan bagi industri besar, katanya.

Intervensi pemda kata dia, dengan berupaya mengkoneksikan hasil produksi pertanian dengan buyer potensial. Misal, PT Indofood serta BUMD PT GNE untuk diolah menjadi beragam jenis saus. Tinggal memastikan kapasitas besar dan keberlanjutan komoditas ini tetap terjaga.

Ini perlu kita terus dorong, imbuhnya. (eka/r9)

Artikel Asli