Catat! Menurut IDAI, Ini Cara Mencegah Shaken Baby Syndrome

wartaekonomi | Ekonomi | Published at Kamis, 14 Oktober 2021 - 12:10
Catat! Menurut IDAI, Ini Cara Mencegah Shaken Baby Syndrome

Shaken baby syndrome atau sindrom bayi terguncang adalah cedera otak yang disebabkan guncangan hebat di kepala. Dampaknya membunuh sel-sel otak bayi dan membuat oksigen tidak sampai ke otak. Kerusakan otak permanen atau kematian pun dapat terjadi.

Melansir Kids Center, shaken baby syndrom paling sering terjadi pada bayi di bawah satu tahun. Itu bisa terjadi ketika orang dewasa frustrasi dengan balita atau anak prasekolah juga.

Menurut Sultan Qaboos University Medical Journal, sebagian besar kasus shaken baby syndrom biasanya dilakukan oleh pengasuh, dan orangtua yang mengalami stres secara sosial, biologis atau finansial, sehingga mudah melakukan tindakan yang impulsif dan agresif.

Adapun bagi orangtua dan pengasuh, faktor yang bisa meningkatkan resiko shaken baby syndrome berupa:

Lalu, apakah shaken baby syndrome bisa terjadi secara tidak sengaja ? Pertanyaan ini mungkin yang paling sering muncul di benak para orang tua.

Melansir dari berbagai sumber, kasus shaken baby syndrom yang tidak disengaja juga mungkin terjadi tanpa disengaja. Misalnya, mengguncang saat menggendong, mengguncang bayi dengan tangan atau kaki, dan melempar bayi ke udara dengan sembarangan.

Namun, sumber lainnya menyatakan bahwa Shaken baby syndrom dihasilkan dari guncangan keras. Jadi, mengayunkannya di ayunan dengan benar, menimang anak di lengan, atau melemparkannya dengan lembut ke udara tidak akan menyebabkan shaken baby syndrom. Bayi juga tidak mungkin mengalami shaken baby syndrom akibat terjatuh tak disengaja atau mobil berhenti mendadak, menurut WebMD.

Perlu diperhatikan, pembuluh darah bayi lebih rentan sobek dibanding anak yang lebih besar, selain itu tulang tengkoraknya juga belum matang dan lebih tipis. Jadi, Moms wajib memperhatikan setiap gerakan ataupun guncangan yang terjadi pada Si Kecil.

Berikut cara mencegah shaken baby syndrome, dilansir dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Selasa, (12/10/2021):

Artikel Asli