Banyak Pengurusan BPJamsostek, Apakah PHK Meningkat?

Ekonomi | lombokpost | Published at Rabu, 06 Oktober 2021 - 08:58
Banyak Pengurusan BPJamsostek, Apakah PHK Meningkat?

MATARAM -Tren klaim program Jaminan Hari Tua (JHT) BPJS Ketenagakerjaan (BPJamsostek) terus meningkat. Hal ini seiring kenaikan jumlah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat Pandemi Covid-19.

Mulai Januari hingga September 2021, pembayaran kliam JHT tercatat Rp 114.653.392.630. Nilai ini berasal dari 8.607 kasus yang dilaporkan.

Jumlah klaimnya memang akan terus bertambah, kata Kepala BPJamsostek NTB Adventus Edison Souhuwat, (5/10).

Namun demikian, para pekerja di NTB hanya berkontribusi 60 persen terhadap nominal pembayaran dan kasus yang dicairkan. Dominan mereka yang bekerja di sektor pariwisata. Sementara 40 persen sisanya merupakan pekerja asal luar daerah. Hal ini karena pencairan JHT berbasis online sehingga dapat dilakukan di kantor BPJS Ketenagakerjaan terdekat di mana saja. Artinya, jika pekerja bekerja di luar daerah kemudian di PHK lalu pulang atau hanya berkunjung ke NTB, maka ia dapat mencairkan JHT miliknya di NTB.

Sebab pencairan JHT tak hanya merujuk lokasi perusahaan saat bekerja. Dengan catatan, seluruh syarat klaim mampu dipenuhi. Sehingga pembayaran yang ada di NTB ini berlaku bagi pekerja secara nasional, jelasnya.

Selain itu, klaim JHT juga didominasi para pekerja yang telah di PHK. Namun tak menutup kemungkinan juga diklaim oleh para pekerja yang masuk usia pensiun, cacat total tetap atau bahkan meninggal dunia. Masa pencairan pun berbeda-beda bergantung keinginan pekerja. Boleh jadi kata dia, mereka yang di PHK bulan lalu atau tahun lalu, baru mencairkaannya tahun ini.

Sederet faktor-faktor yang membuat klaim JHT meningkaat setiap bulannya, imbuhnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinskertrans) NTB I Gede Putu Aryadi mengatakan bahwa tahun ini hanya ada 137 laporan tenaga kerja terkena PHK. Hampir seluruh persoalan telah teratasi dan sebagainnya lagi masih dalam tahap mediasi.

Sementara para pekerja yang dirumahkan dipastikan telah direkrut kembali oleh perusahaan. Hal ini didukung aktivitas sektor industri yang perlahan mulai normal kembali. Padahal sepanjang 2020 tercatat kurang lebih 3.000 orang pekerja NTB yang dirumahkan akibat pandemi Covid-19. Pengangguran kita sedikit demi sedikit teratasi, klaimnya.

Meski demikian, tak semua pekerja dirumahkan atau yang telah mendapat pelatihan mau kembali bekerja di idnustri. Tak sedikit dari mereka yang justru beralih menjadi wirausaha baru. Inilah yang membuat serapan naker yang dirumahkan tak sepenuhnya dipanggil kembali oleh perusahaan. Artinya serapan pengangguran ini tak hanya andalkan industri saja, katanya. (eka/r9)

Artikel Asli