Pembangunan Papua Harus Sentuh Kehidupan Riil

Ekonomi | koran-jakarta.com | Published at Rabu, 06 Oktober 2021 - 08:43
Pembangunan Papua Harus Sentuh Kehidupan Riil

JAKARTA - Pemerintah diminta memperkuat ekonomi lokal di Papua. Pembangunan tidak cukup hanya dengan infrastruktur skala besar tetapi harus yang menyentuh langsung kehidupan riil masyarakat Papua. Sebab, apabila yang dibangun hanya skala besar yang untung hanya golongan tertentu saja, dan pengaruhnya ke ekonomi rakyat kecil sangat sedikit.

Gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021 harus menjadi momentum untuk mengevaluasi pendekatan pembangunan di Bumi Cenderawasih. Tujuannya, agar ekonomi itu tumbuh dari bawah, menggerakan sumber daya lokal sehingga pembangunan dapat mengentaskan kemiskinan di Papua dan mempersempit ketimpangan.

"Pembangunan di Papua harus menyentuh semua kalangan. Pembangunan tidak hanya enak di pandang mata saja dan menjadi bahan pujian sementara," ujar Pengamat Ekonomi Energi Mamit Setiawan di Jakarta, Selasa (5/10).

Dia mengakui kondisi geografis disana yang cukup sulit menjadi salah satu penyebabnya. Pemerintah juga harus menyentuh ke masyarakat adat dalam pemberdayaan ekonomi disana. Tantangan keamanan juga menjadi kendala. "Tapi, saya yakin, dengan kemampuan yang ada TNI Polri bisa menjaga keamanan di Papua,"ucapnya

Intervensi pemerintah yang lebih konkret, menurut Mamit, perlu dilakukan di sektor pertanian dan perikanan.

Dari sisi energi, lanjutnya, pemerintah perlu memperbanyak stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) atau sejenisnya di area Papua karena ini sumber penggerak perekonomian masyarakat di sana. Tak hanya itu, pembangunan jaringan listrik harus merata di wilayah tersebut sehingga bisa meningkatkan perekonomian.

Selain aspek ekonomi, hal lainnya yang tak kalah penting adalah upaya menghadirkan pendidikan yang lebih bermutu serta pelayanan kesehatan memadai di sana.

Kemiskinan Tinggi

Sementara itu, Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi menyebut angka kemiskinan Papua dan Papua Barat terbilang tinggi, yakni 26,8 persen dan 21, 7 persen. Angka itu menandakan pembangunan di Papua menjadi tantangan serius bagi pemerintah, sehingga perlu fokus dan terukur.

Namun, pembangunannya harus lebih berkaitan dengan kehidupan riil masyarakat.

Artikel Asli