Ditahan Lagi, Suku Bunga Acuan BI Tetap di 3,5 Persen

Ekonomi | limapagi.id | Published at Selasa, 21 September 2021 - 14:32
Ditahan Lagi, Suku Bunga Acuan BI Tetap di 3,5 Persen

LIMAPAGI - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang digelar pada 20-21 September 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50 persen.

Sejak Februari 2021, suku bunga acuan berada di 3,5 persen. Hal ini membuat 7 bulan suku bunga tidak berubah.

Selain suku bunga acuan tetap, bank sentral juga memutuskan mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75 persen, dan suku bunga Lending Facility tetap sebesar 4,25 persen.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan stabilitas sistem keuangan. Di mana, di tengah perkiraan inflasi yang rendah dan juga upaya mendukung pemulihan ekonomi termasuk dari Covid-19.

"Selain itu, Bank Indonesia juga terus mengoptimalkan seluruh bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan serta mendukung upaya bersama untuk perbaikan ekonomi lebih lanjut," kata dia dalam konferensi pers secara daring, Kamis, 19 Juli 2021.

Hal ini ditempuh melalui berbagai langkah yakni pertama melanjutkan kebijakan nilai tukar Rupiah. Hal ini untuk menjaga stabilitas nilai tukar yang sejalan dengan fundamental dan mekanisme pasar.

"Kedua melanjutkan penguatan strategi moneter untuk memperkuat efektivitas stand kebijakan moneter akomodatif," ujarnya.

Ketiga, lanjutnya, memperkuat kebijakan transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK). Hal ini dengan penekanan transmisi SBDK di suku bunga kredit baru, khususnya segmen KPR.

Keempat, mengakselerasi penggunaan QRIS termasuk QRIS khususnya di pasar, pusat perbelanjaan, dan tempat-tempat ibadah. Hal ini untuk meningkatkan integrasi ekosistem keuangan digital, sekaligus mendukung protokol kesehatan.

"Kelima, memperkuat koordinasi dengan pemerintah terkait pelaksanaan uji coba digitalisasi bantuan sosial dan elektronifikasi transaksi pemerintah untuk mendorong realisasi belanja pemerintah," ujarnya.

Keenam, lanjut Perry, memfasilitasi penyelenggaraan promosi perdagangan dan investasi. Serta, melanjutkan sosialisasi penggunaan local currency settlement (LCS), bekerja sama dengan instansi terkait maupun dunia usaha.

"Pada September dan Oktober 2021 akan diselenggarakan promosi investasi dan perdagangan di Jepang, China dan Inggris," ujarnya.

Artikel Asli