Masyarakat Bersuara Soal Pelayanan KAI Selama Pandemi

jawapos | Ekonomi | Published at Kamis, 16 September 2021 - 13:28
Masyarakat Bersuara Soal Pelayanan KAI Selama Pandemi

JawaPos.com Pandemi Covid-19 telah membuat banyak perubahan terhadap seluruh aspek kehidupan manusia. Dengan adanya perubahan ini, masyarakat pun tentu perlu beradaptasi agar tetap bisa menjalani aktivitas sehari-hari.

Adaptasi terkait dengan kesehatan merupakan hal yang paling utama, pembatasan kegiatan serta edukasi protokol kesehatan (prokes) menjadi upaya pencegahan penyebaran virus tersebut. Khususnya ditempat yang rawan menimbulkan kerumunan.

Salah satu potensi itu terdapat di lokasi seperti di stasiun kereta api karena menjadi tempat lalu-lalang masyarakat, utamanya untuk berangkat-pulang kerja. Oleh karena itu, untuk meminimalisir adanya penularan virus di lokasi, PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) pun menjalankan sejumlah penyesuaian kebijakan sejak pandemi merebak di Indonesia. Seperti refund tiket kereta api.

Hal itu berlangsung pada Maret 2020 lalu, guna membatasi mobilisasi masyarakat, KAI memberlakukan kebijakan pengembalian 100 persen untuk pembatalan tiket kereta api. Kebijakan tersebut dimulai dari tanggal 23 Maret sampai 4 Juni 2020.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno menilai pengembalian dana 100 persen itu adalah langkah yang cermat demi menjaga hati para konsumen. Di sisi lain, kebijakan ini juga ditujukan agar pelanggan tetap terjaga dari virus yang penyebarannya melalui pergerakan manusia.

Itu hak konsumen, kalau tidak menggunakan harus dikembalikan. Itu dilakukan oleh PT KAI agar konsumen tidak dikecewakan, ungkap dia kepada JawaPos.com dikutip, Kamis (16/9).

Lalu, pada Juni 2020, PT KAI juga mulai menerapkan Protokol New Normal, di mana kala itu masyarakat sudah mulai kembali beraktivitas saat pemerintah menerapkan PSBB New Normal. Penerapannya antara lain okupansi penumpang 50 persen, wajib mencuci tangan di wastafel sebelum masuk area stasiun, wajib menggunakan masker dan face shield serta melakukan physical distancing saat berada di area stasiun dan di dalam kereta api.

Kemudian, pengukuran suhu tubuh pada saat boarding, apabila diatas 37,3 derajat celcius, calon penumpang tidak diperkenankan menggunakan layanan karena sangat berisiko. Para petugas pun juga wajib menggunakan alat pelindung diri (APD) serta menerapkan penambahan standar operasional prosedur (SOP).

Mengenai pengaplikasian tersebut, Pungkas Widodo, 58, salah satu pelanggan setia layanan kereta api mengatakan bahwa penerapan itu semua sudah bagus. Hal yang masih belum optimal adalah kesadaran penumpang untuk menjaga jarak ketika menunggu kereta tiba.

Yang sulit itu di kereta jaga jarak, jadi orang itu cenderung pengen cepet sampai, cepet-cepet masuk. Nah, PT KAI mulai menyesuaikan, jadi kereta itu datang ke stasiun lalu selang beberapa menit pintu tutup, kalau dulu awal-awal pintu tetap buka sampai kereta akan berangkat. Kalau untuk kebersihan sudah bagus banget, ungkap dia usai turun dari Stasiun Palmerah.

Kemudian, impresi lain juga disampaikan oleh Nabil, 26, pria yang sering pergi-pulang kerja menggunakan moda transportasi darat ini. Menurutnya, pelayanan sudah jauh lebih meningkat selama pandemi.

Pas pandemi ini jadi lebih tertib aja, terus juga mereka (pelanggan dan petugas) semua pake masker. Prokes secara keseluruhan bagus, tertib masker dan disediain spot (titik) buat cuci tangan dan disinfektan juga, ujarnya di Stasiun Gondangdia.

Upaya lainnya dalam penanganan pandemi adalah stasiun yang menjadi lokasi rapid test antigen guna memberikan kemudahan layanan bagi pelanggan dan masyarakat umum. Pada Juli 2020 KAI menyediakan layanan tersebut di 12 stasiun seluruh Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, stasiun yang menyediakan tempat layanan rapid test antigen pun bertambah sampai 83 stasiun per Juli 2021. Harganya pun terjangkau, yakni Rp 85 ribu.

KAI pun turut mendukung produk kesehatan karya anak bangsa, yakni GeNose C19 yang saat ini sudah hadir di 55 stasiun, layanan ini diperkenankan untuk perjalanan jarak jauh dengan tarif Rp 30 ribu.

Menurut saya (penambahan layanan) sudah bagus, setiap perubahan ada improvement yang signifikan dan berpengaruh. Kalau bisa seluruh stasiun (layanan rapid test antigen dan Genose C19), tambah Pungkas.

Bahkan, stasiun juga difungsikan untuk menjadi lokasi layanan vaksinasi Covid-19 bagi pengguna kereta api dan masyarakat umum, baik di Pulau Jawa dan Sumatera. Hal ini bertujuan untuk mengakselerasi vaksinasi yang merupakan tujuan utama pemerintah dalam memberantas Covid-19.

Menurut saya vaksinasi ini korelasi pemerintah untuk mencapai herd immunity (kekebalan kelompok), layanan di stasiun ini jadi mudah dijangkau masyarakat karena (stasiun) public area. Itu tempat yang tepat, harus terus ditambah, katanya.

Senada dengan itu, Djoko pun berharap jumlah layanan ini bisa terus ditingkatkan. Makin banyak, makin bagus, ucapnya.

Baru-baru ini kebijakan lain pun juga sudah diterapkan, yakni seluruh calon penumpang layanan KAI wajib melakukan vaksinasi Covid-19, minimal dosis pertama. Hal ini guna menjaga keselamatan dan kenyamanan para konsumen KAI.

Dengan diberlakukannya syarat vaksin tersebut, maka syarat SRTP, Surat Tugas atau surat keterangan lainnya tidak lagi menjadi syarat bagi pelanggan KA Lokal, Commuter atau perkotaan, terang VP Public Relations KAI Joni Martinus.

Mekanismenya adalah dengan melampirkan bukti vaksinasi Covid-19 yang nantinya akan dicek oleh petugas di layar monitor. Data perihal vaksinasi ini juga sudah terintegrasi dengan aplikasi PeduliLindungi melalui sistem boarding yang mewajibkan calon pelanggan menyertakan NIK pada saat pembelian atau pemesanan tiket KA Lokal.

Apabila data tidak muncul pada layar komputer petugas, maka pemeriksaan akan dilakukan secara manual dengan menunjukkan kartu vaksin calon pelanggan.

Terkait hal tersebut, Pungkas berkata bahwa ini adalah terobosan yang bagus karena tidak perlu lagi menunjukkan dokumen penyerta. Namun, diharapkan KAI memiliki alternatif lain agar calon pelanggan tetap bisa memakai layanan ketika ditemui kendala di lokasi.

Kan ada ibu-ibu yang HP jadul dan dia belum cetak kartu vaksin, tapi dia punya KTP, dengan cara itu cek-nya (bisa tracking lewat PeduliLindungi), imbuhnya.

Ia juga mengharapkan agar PT KAI tidak berpuas diri dan terus meningkatkan pelayanannya, terutama dalam penambahan armada kereta dan direct line atau jalur tanpa transit.

KAI sekarang ini infrastruktur diperbaiki. Korelasi dengan keadaan pandemi, kalau terlalu banyak titik transit akan ada titik kumpul, seharusnya ada line langsung. Armadanya ditambah, overall sudah bagus, cetusnya.

Nabil juga mengungkapkan hal serupa, yakni penambahan armada dan pembatasan kuota penumpang pasca pandemi agar tidak terlalu berdesakan di dalam gerbong.

Harapannya, kedepan khususnya setelah pandemi itu di kuota-in setiap jamnya biar nggak desek-desekan atau mungkin bisa nambah kereta lagi. Nggak nyaman kalo naik kereta kondisi gitu, singgung dia.

Sementara itu, Djoko pun menharapkan agar PT KAI dapat berbagi kiat-kiatnya dalam penanganan pandemi Covid-19 kepada moda transportasi lain. Pasalnya, ia menilai bahwa semua yang dilakukan PT KAI sudah sangat efisien dalam penanganan penyebaran virus.

Apa yang sudah dilakukan tetap dipertahankan karena sekarang sudah bagus dan juga mau berbagi cara kepada moda transportasi lain sebagai contoh, tandas dia.

Joni menambahkan terkait dengan syarat-syarat lain untuk bisa menggunakan layanan kereta api, pelanggan dengan kondisi kesehatan khusus atau penyakit komorbid yang menyebabkan tidak dapat menerima vaksin, wajib melampirkan surat keterangan dokter dari rumah sakit pemerintah yang menyatakan bahwa yang bersangkutan belum dan/atau tidak dapat mengikuti vaksinasi Covid-19.

Selain itu, pelanggan dengan usia di bawah 12 tahun masih tidak diperkenankan melakukan perjalanan dengan Kereta Api, jelasnya.

Diingatkan kepada masyarakat agae selalu mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Berbagai protokol kesehatan tersebut disusun pemerintah dalam rangka memastikan agar pandemi Covid-19 ini dapat semakin terkendali dan perekonomian dapat kembali pulih.

Layanan Kereta Api tetap hadir untuk membantu mobilitas masyarakat yang tetap harus bepergian di masa pandemi Covid-19. KAI selalu mematuhi seluruh kebijakan pemerintah dalam hal penanganan Covid-19 pada moda transportasi kereta api, tutup Joni.

Artikel Asli