Deposito Nasabah Rp45 Miliar Diduga Hilang, BNI Temukan Kejanggalan

inewsid | Ekonomi | Published at Kamis, 16 September 2021 - 12:35
Deposito Nasabah Rp45 Miliar Diduga Hilang, BNI Temukan Kejanggalan

JAKARTA, iNews.id - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) memberikan penjelasan terkait dugaan hilangnya deposito sebesar Rp45 miliar milik nasabah di Makassar. Dalam kasus ini, BNI menemukan sejumlah kejanggalan setelah melakukan investigasi.

Corporate Secretary BNI Mucharom mengatakan, perseroan telah melaporkan kejadian tersebut kepada Bareskrim Polri pada 1 April 2021 lalu. Berdasarkan perkembangan pemeriksaan di Bareskrim Polri, ada beberapa kronologis.

"Pada awalnya terdapat beberapa pihak yang menunjukkan dan membawa bilyet deposito BNI dan kemudian meminta pencairan atas bilyet deposito tersebut kepada BNI KC Makassar. Pada awal Februari 2021, RY dan AN membawa dan menunjukkan dua bilyet deposito BNI tertanggal 29 Januari 2021 kepada bank dengan total senilai Rp50 Miliar," kata Mucharom dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Kamis (16/9/2021).

Kemudian pada Maret 2021, berturut-turut datang pihak yang mengatasnamakan IMB membawa tiga buah bilyet deposito tertanggal 1 Maret 2021 atas nama PT AAU, PT NB, dan IMB dengan total senilai Rp40 miliar. Lalu, HDK membawa tiga bilyet deposito atas nama HDK dan satu bilyet deposito atas nama HPT dengan total Rp20,1 miliar.

Berdasarkan hasil investigasi perseroan ditemukan sejumlah kejanggalan. Pertama, seluruh bilyet deposito hanya berupa cetakan hasil scan ( print scanned ). Kedua, seluruh bilyet deposito yang ditunjukkan RY, AN, HDK dan HPT memiliki nomor seri bilyet deposito yang sama, serta bilyet deposito atas nama PT AAU, PT NB dan IMB nomor serinya tidak tercetak jelas, huruf kabur, atau buram.

"Seluruh bilyet deposito tersebut tidak masuk ke dalam sistem bank dan tidak ditandatangani oleh pejabat Bank yang sah. Tidak ditemukan adanya setoran nasabah untuk pembukaan rekening deposito tersebut," ujarnya.

Kemudian pada akhir Februari 2021, RY dan AN menyatakan telah menerima pembayaran atas bilyet deposito tersebut secara langsung dari MBS sebesar Rp50 miliar, pembayaran tersebut dilakukan tanpa melalui dan melibatkan bank. Hal yang sama juga terjadi pada pengembalian dan penyelesaian klaim deposito kepada HDK sebesar Rp3,5 Miliar yang juga dilakukan secara langsung oleh MBS tanpa melalui dan melibatkan bank.

"Selanjutnya perseroan berinisiatif melaporkan peristiwa tersebut kepada Bareskrim Polri pada tanggal 1 April 2021 dengan dugaan tindak pidana pemalsuan, tindak pidana perbankan, dan tindak pidana pencucian uang," tuturnya.

Mucharom menambahkan, langkah ini dilakukan guna mengungkap pelaku, pihak-pihak yang terlibat, dan para pihak yang memperoleh manfaat atau keuntungan. Hal ini juga dilakukan agar pelaku dihukum, serta mencegah berulangnya percobaan tindak pidana serupa.

Dia juga menyampaikan, tidak terdapat informasi atau kejadian penting lainnya yang material dan dapat mempengaruhi kelangsungan hidup perseroan serta dapat mempengaruhi harga saham perseroan.

Artikel Asli