Tekan Pengeluaran Garuda, Erick Thohir: Kita Fokus Negosiasi dengan Lessor

inewsid | Ekonomi | Published at Kamis, 16 September 2021 - 12:06
Tekan Pengeluaran Garuda, Erick Thohir: Kita Fokus Negosiasi dengan Lessor

JAKARTA, iNews.id - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, PT Garuda Indonesia Tbk sedang berupaya keluar dari lilitan utang. BUMN penerbangan itu, tercatat memiliki utang sebesar Rp70 triliun karena pengeluaran besar berupa biaya sewa ( leasing ) pesawat yang di luar batas wajar.

Menurutnya, apa yang dialami emiten berkode GIAA itu karena kesalahan bisnis. Karena itu, kesalahan ini bisa dijadikan pelajaran di masa depan.

"Khusus Garuda ini memang kesalahan yang kita juga tidak bermaksud apa-apa, tapi memang kita ingin menjadi bagian yang harus kita belajar," kata Erick dalam sesi wawancara dengan IDX Channel, dikutip Kamis, (16/9/2021).

Sementara itu, Kementerian BUMN sebagai pemegang saham mayoritas memiliki sejumlah rencana besar untuk menyelamatkan Garuda Indonesia. Selain mendapat dukungan untuk merestrukturisasi utang emiten, juga melakukan perubahan model bisnis.

Terkait restrukturisasi, Garuda telah mendapatkan persetujuan untuk merestrukturisasi utang dalam jangka panjang. Saat ini, manajemen telah menandatangani perjanjian dengan sejumlah BUMN dengan rata-rata jangka waktu tiga tahun.

Perjanjian itu disepakati dengan PT Pertamina (Persero), PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero), dan Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI).

Mengenai perubahan model bisnis, kata Erick, Garuda akan difokuskan pada rute penerbangan domestik. Langkah ini diambil untuk memanfaatkan pasar domestik yang masih potensial.

Data penerbangan masih didominasi oleh penumpang domestik. Tercatat, 78 persen penumpang menggunakan pesawat untuk bepergian antarpulau dengan estimasi perputaran uang mencapai Rp1.400 triliun.

"Kalau kita lihat dari data sebelum Covid sendiri, 78 persen adalah turis lokal, sisanya turis asing. Dari 78 persen itu Rp1.400 triliun perputaran uangnya. Jadi memang nanti kita akan memfokuskan kepada penerbangan dalam negeri saja. Ini untuk bisnis model perubahan," tutur Erick.

Meski maskapai penerbangan nasional itu masih bertahan di tengah krisis, namun perbaikan model bisnis penting dilakukan agar emiten pelat merah tersebut lebih efisien. Perbaikan tersebut dapat dilakukan usai emiten mengakhiri kontrak bersama Nordic Aviation Capital atau NAC.

Langkah lainnya, melakukan penguatan bisnis kargo. Manajemen juga diharuskan melakukan upaya pemetaan terkait pembiayaan sewa pesawat. Erick mencatat, leasing pesawat Garuda mencapai 28 persen atau tertinggi di dunia. Hal ini menjadi sebab lain emiten menanggung beban keuangan.

Untuk menekan pengeluaran sewa itu, pemegang saham tengah berupaya melakukan negosiasi dengan sejumlah lessor atau perusahaan penyewa pesawat.

"Jadi, makanya kita sedang fokus negosiasi dengan lessor dan kita kategorikan ada dua, lessor yang klasifikasi korupsi sesuai dengan temuan KPK dan lain-lain. Kita tidak mau dalam negosiasi kita dilemahkan. Silakan saja ambil pesawatnya. Untuk B to B kemahalan, ya kita coba negosiasi ulang," kata Erick.

Artikel Asli