Investasi Rp 15,6 Triliun, Pabrik Baterai Mobil Listrik Tuntas 2023

jawapos | Ekonomi | Published at Kamis, 16 September 2021 - 10:39
Investasi Rp 15,6 Triliun, Pabrik Baterai Mobil Listrik Tuntas 2023

JawaPos.com Indonesia memulai babak baru pengembangan kendaraan listrik. Kemarin Presiden Jokowi melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking pabrik industri baterai kendaraan listrik PT HKML Battery Indonesia di Karawang, Jawa Barat.

Proyek senilai USD 1,1 miliar atau sekitar Rp 15,6 triliun itu merupakan realisasi investasi konsorsium LG dan Hyundai yang terdiri atas Hyundai Motor Company, KIA Corporation, Hyundai Mobis, dan LG Energy Solution.

Pabrik itu disebut sebagai pabrik baterai kendaraan listrik pertama di Indonesia maupun di Asia Tenggara. Kita patut bersyukur hari ini bisa menyaksikan groundbreaking pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik pertama di Indonesia, bahkan pertama di Asia Tenggara, dengan nilai investasi USD 1,1 miliar, ujar Jokowi dalam sambutannya.

Jokowi menuturkan, pemerintah berupaya mengubah struktur ekonomi. Dari berbasis komoditas menjadi negara industri yang berbasis pada pengembangan inovasi teknologi.

Menurut dia, pembangunan pabrik tersebut merupakan wujud keseriusan pemerintah untuk melakukan hilirisasi industri. Strategi bisnis besar negara adalah segera keluar dari jebakan negara pengekspor bahan mentah, ucapnya.

Jokowi menjelaskan, pembangunan pabrik itu adalah langkah strategis untuk melepaskan ketergantungan pada produk-produk impor. Percepatan revitalisasi industri pengolahan diharapkan bisa mendorong peningkatan nilai tambah ekonomi. Saya yakin, dalam 34 tahun ke depan lewat manajemen pengelolaan yang baik, Indonesia bisa menjadi produsen utama produk-produk barang jadi berbasis nikel, katanya.

Optimisme itu tidak berlebihan. Sebab, Indonesia merupakan negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia. Hilirisasi industri akan meningkatkan nilai tambah bijih nikel secara signifikan. Selain itu, pengembangan industri baterai akan meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai negara tujuan investasi.

Jika diolah menjadi cell baterai, nilainya bisa meningkat 67 kali lipat. Dan jika menjadi mobil listrik, akan meningkat lebih besar lagi. Nilai tambahnya 11 kali lipat, tuturnya.

Jokowi melanjutkan, pemerintah berkomitmen mendukung pengembangan ekosistem industri baterai dan kendaraan listrik. Pemerintah juga terus menggulirkan reformasi struktural terkait kepastian hukum dan kemudahan perizinan bagi pelaku usaha dan investor.

Mantan gubernur DKI Jakarta itu berharap kolaborasi antara perusahaan Korea Selatan (Korsel) dan perusahaan Indonesia semakin kuat. Namun, hal itu harus melibatkan usaha mikro, kecil, dan menengah. Saya berpesan agar kolaborasi yang terbangun bukan hanya di antara perusahaan-perusahaan besar atau BUMN, terangnya.

Di balik miliaran dolar investasi baterai listrik yang masuk itu, ada proses negosiasi yang tak mudah. Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia harus bolak-balik ke Korsel sampai tujuh kali dan mengganti draf nota kesepahaman (MoU) hingga puluhan kali.

Draf MoU dibuat 21 kali, lalu tujuh kali ke Korea baru bisa teken (MoU). Luar biasa negosiasinya, ungkap Bahlil dalam kesempatan yang sama. Dia menuturkan, mobil listrik bisa diproduksi mulai Mei 2022. Mei 2022 paling lambat, insya Allah sudah produksi. Jadi, mobilnya sudah paten. Ini istilah Pak Menko (Maritim dan Investasi) patenkan barang itu. Tapi, Insya Allah kita produksi, katanya.

Produksi mobil listrik yang dimaksud Bahlil dilakukan di Deltamas, Kabupaten Bekasi. Saat ini, pabrik yang dibangun oleh Hyundai tersebut memasuki tahap akhir konstruksi. Namun, saat mobil listrik diproduksi, baterainya masih menggunakan produk impor. Sebab, pabrik baterai listrik di Karawang diperkirakan baru siap produksi 34 tahun mendatang.

Bahlil melanjutkan, pengembangan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia dimulai dari sisi hilir. Rencananya, fasilitas sel baterai itu berkapasitas produksi 10 gigawatt hour (GWh) dan akan menyuplai kendaraan listrik produksi Hyundai.

Pembangunan pabrik tersebut merupakan bagian dari keseluruhan rencana proyek baterai kendaraan listrik terintegrasi senilai USD 9,8 miliar atau setara Rp 142 triliun yang telah diteken dengan Korsel. Pemerintah, lanjut Bahlil, akan membuka keran impor bahan baku dalam pengembangan baterai kendaraan listrik untuk dua tahun pertama. Dua tahun pertama, 10 GWh ini kami izinkan dulu impor bahan baku. Selebihnya ambil bahan baku dari negeri sendiri, paparnya.

Dia menekankan, dalam MoU yang sudah diteken, akan diprioritaskan menyerap tenaga kerja dari dalam negeri. Tenaga kerja asing (TKA) hanya diperbolehkan untuk spesifikasi khusus dan jabatan tertentu. Hal itu telah disepakati dengan pemerintah Korsel. Di dalam MoU kami tekankan bahwa lapangan pekerjaan harus seluas-luasnya untuk dalam negeri, tegasnya.

Bahlil menambahkan, proyek baterai kendaraan listrik juga didorong untuk menggaet UMKM dan pengusaha nasional di daerah. Ini sebagai bentuk arahan Bapak Presiden, baik secara lisan, tertulis, maupun dalam UU Cipta Kerja pasal 90, jelasnya.

Chairman Hyundai Motor Group Euisun Chung menegaskan, pihaknya akan fokus mengembangkan dan membidik target untuk menjadi market leader di pasar kendaraan listrik. Dimulai dari pabrik ini, ekosistem kendaraan listrik akan sukses terbangun di Indonesia seiring dengan pengembangan dari berbagai industri terkait. Lebih jauh, kami berharap Indonesia dapat memainkan peran penting di pasar kendaraan listrik di ASEAN, ucapnya.

President & CEO LG Energy Solution Kim Jong-hyun menambahkan, lewat kemitraan joint venture itu, Indonesia akan selangkah lebih maju dalam membangun rantai pasokan komprehensif kendaraan listrik. LG Energy Solution bakal melakukan yang terbaik untuk mengembangkan fasilitas manufaktur sel baterai bersama ini agar menjadi basis utama dalam memenangkan pasar kendaraan listrik global, ujarnya.

Pabrik baru untuk manufaktur sel baterai tersebut akan dibangun di atas tanah seluas 330.000 meter persegi. Pembangunan pabrik ditargetkan selesai pada semester I tahun 2023. Sementara itu, produksi sel baterai secara massal di fasilitas baru diharapkan bisa dimulai pada semester awal 2024.

Euisun Chung menyatakan, saat beroperasi secara penuh, fasilitas Hyundai-LG itu ditargetkan dapat memproduksi 10 GWh sel baterai lithium-ion dengan bahan katode NCMA (nikel, kobalt, mangan, aluminium) per tahun, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan 150 ribu unit battery electric vehicle (BEV). Selain itu, fasilitas ini akan disiapkan untuk meningkatkan kapasitas produksi hingga 30 GWh agar dapat memenuhi pertumbuhan permintaan BEV di masa yang akan datang, terangnya.

Sel baterai yang diproduksi di Karawang, lanjut Chung, bakal diaplikasikan pada model kendaraan listrik milik Hyundai Motor dan Kia yang dibangun di atas platform khusus BEV dari Hyundai Motor Group, yaitu Electric-Global Modular Platform (E-GMP). Pabrik baru itu akan membantu Hyundai dan Kia dengan memasok sel baterai yang dioptimalkan untuk berbagai model BEV dari dua perusahaan otomotif tersebut.

Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid optimistis Indonesia punya potensi menjadi produsen baterai mobil listrik terbesar di dunia. Sebab, Indonesia punya pasokan nikel yang besar untuk pembuatan baterai lithium. Nikel adalah bahan utama pembuatan baterai lithium yang digunakan untuk mobil listrik. Kita bisa menguasai salah satu rantai pasok baterai lithium dan pengembangan mobil listrik dunia, ungkapnya.

Pembangunan pabrik baterai oleh investasi Hyundai dan LG Energy Solution melengkapi kabar gembira dari ekosistem industri kendaraan listrik, yang juga baru mendapat titik terang berkat aturan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) berbasis emisi. PPnBM emisi menegaskan bahwa kendaraan listrik berkonfigurasi full electric seperti BEV akan mendapat fasilitas PPnBM nol persen.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) berkali-kali menegaskan bahwa kendala yang membuat mobil listrik belum bisa diterima luas oleh masyarakat adalah harga jual yang tinggi. Saat ini, harga mobil listrik di Indonesia rata-rata lebih dari Rp 500 juta. Padahal, dari data Gaikindo, mobil yang paling diminati di Indonesia adalah mobil dengan harga kisaran di bawah Rp 300 juta.

Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto menjelaskan, baterai merupakan komponen termahal dari kendaraan listrik. Karena itu, pihaknya menyambut baik pengembangan pabrik baterai kendaraan listrik di Indonesia. Ketika Indonesia bisa memproduksi baterai mobil listrik sendiri, diharapkan harga jual mobil listrik semakin terjangkau, tuturnya.

Terkait prospek mobil listrik di Indonesia, sebenarnya market sudah bergerak ke arah yang menjanjikan. Gaikindo mencatat, pengiriman mobil listrik ke konsumen naik hampir 100 persen atau dari 685 unit menjadi 1.108 unit pada 2020. Kemudian, pada semester I 2021, penjualan mobil listrik telah melampaui angka tahun lalu, yaitu 1.900 unit. Kami percaya kendaraan listrik masih akan naik terus (permintaannya, Red). Tapi, memang saat ini daya beli masyarakat belum sampai ke harga mobil tersebut, imbuhnya.

Artikel Asli