Transformasi Ekspor Harus Dipacu

koran-jakarta.com | Ekonomi | Published at Kamis, 16 September 2021 - 09:51
Transformasi Ekspor Harus Dipacu

JAKARTA - Indonesia sepertinya belum mampu keluar dari jebakan eksportir bahan mentah. Indikasi tersebut terlihat di tengah lonjakan harga komoditas dunia, seperti kelapa sawit dan batu bara, kinerja ekspor Indonesia melesat hingga membuat neraca perdagangan surplus.

Karena itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin agar Indonesia dapat keluar dari jebakan negara pengekspor bahan mentah secepatnnya. "Strategi bisnis besar negara adalah keluar secepatnya dari jebakan pengekspor bahan mentah, melepaskan ketergantungan pada produk-produk bahan impor dengan mempercepat revitalisasi industri pengolahan," kata Presiden Jokowi, di Karawang New Industrial City, Jawa Barat, Rabu (15/9).

Presiden menegaskan era kejayaan komoditas bahan mentah sudah berakhir. Untuk itu, Indonesia harus berani mengubah struktur ekonomi yang selama ini berbasis komoditas untuk masuk ke industrialisasi menjadi negara industri yang kuat dengan berbasis pada pengembangan inovasi teknologi.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) melansir neraca perdagangan pada Agustus 2021 mengalami surplus sebesar 4,74 miliar dollar AS dengan nilai ekspor 21,42 miliar dollar AS dan impor 16,68 miliar dollar AS.

"Kalau kita perhatikan bahwa surplus di Agustus ini membukukan surplus beruntun selama 16 bulan terakhir. Ini capaian yang bagus, sehingga harapan kita untuk pemulihan ekonomi berjalan sesuai harapan," kata Kepala BPS, Margo Yuwono, saat menggelar konferensi pers secara virtual, Rabu (15/9).

Negara yang menyumbang surplus terbesar dalam neraca perdagangan Agustus 2021, meliputi Amerika Serikat sebesar 1,5 miliar dollar AS, India sebesar satu miliar dollar AS, dan Filipina sebesar 584 juta dollar AS. Sementara itu, neraca perdagangan dengan beberapa negara mengalami defisit, di antaranya dengan Australia sebesar 453,9 juta dollar AS, Thailand 334 juta dollar AS, dan Tiongkok 175,5 juta dollar AS.

Dengan demikian, lanjut dia, neraca perdagangan RI secara kumulatif pada Januari- Agustus 2021 mengalami surplus 19,17 miliar dollar AS.

BPS melansir nilai ekspor pada Agustus 2021 sebesar 21,42 miliar dollar AS merupakan rekor tertinggi sejak Agustus 2011. "Nilai ekspor Agustus ini merupakan rekor baru ekspor Indonesia. Sebelumnya ekspor tertingginya tercatat pada Agustus 2011, sebesar 18,60 miliar dollar AS," kata Margo.

Kenaikan Harga

Dia menambahkan, tingginya ekspor yang terjadi pada Agustus 2021 dipengaruhi oleh peningkatan volume ekspor dan kenaikan harga komoditas secara internasional, di antaranya minyak sawit dan batu bara. "Dari sisi volume dan harga keduanya mengalami kenaikan. Kalau dilihat komoditas, yang naik itu adalah minyak sawit dan batu bara yang harganya secara internasional mengalami peningkatan," tukas Margo.

Nilai ekspor Indonesia pada Agustus 2021 mencapai 21,42 miliar dollar AS atau naik 20,95 persen dibanding ekspor Juli 2021. Sedangkan dibanding Agustus 2020 nilai ekspor naik 64,10 persen. Ekspor nonmigas Agustus 2021 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu 4,78 miliar dollar AS, disusul Amerika Serikat 2,25 miliar dollar AS dan India 1,72 miliar dollar AS, dengan kontribusi ketiganya mencapai 42,98 persen.

Sementara ekspor ke Asean dan Uni Eropa (27 negara) masing- masing sebesar 3,37 miliar dollar AS dan 1,63 miliar dollar AS. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia periode Januari-Agustus 2021 mencapai 142,01 miliar dollar AS atau naik 37,77 persen dibanding periode yang sama pada 2020.

Artikel Asli