Minimalkan Dampak Perubahan Iklim

koran-jakarta.com | Ekonomi | Published at Kamis, 16 September 2021 - 08:45
Minimalkan Dampak Perubahan Iklim

JAKARTA - Tanaman hortikultura merupakan jenis tumbuhan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim (DPI). Namun dalam perkembangannya, hal itu bisa diminimalisir sehingga kerugian penurunan produksi dapat dihindari.

Direktur Perlindungan Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Inti Pertiwi menyampaikan. dalam program Kampung Holtikultura terdapat kebijakan operasional perlindungan tanaman melalui beberapa pendekatan meliputi pendekatan sistem Pre-emtif dan Kuratif (PHT) berupa gerakan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), penerapan PHT, penguatan kelembagaan - Klinik PHT serta penanganan DPI.

"Walaupun perubahan iklim tidak bisa dihindari dan dampaknya pasti akan terjadi, namun kita dapat meminimalkan dampak perubahan iklim tersebut menjadi suatu proses yang dapat diadaptasi," ungkapnya, di Jakarta, Rabu (15/9).

Dirinya menerangkan, DPI terhadap tanaman hortikultura antara lain berpengaruh pada pola curah hujan dan sifat hujan, peningkatan suhu udara dan permukaan air laut serta peningkatan suhu udara yang dapat memicu kekeringan. Dari beberapa hal tersebut tentunya dapat dijadikan sebagai strategi bagaimana dampak tersebut tidak banyak mengganggu pengelolaan budi daya hortikultura. Selain itu, beberapa strategi untuk menyikapi perubahan iklim harus adanya antisipasi, adaptasi, dan mitigasi.

"Pada aspek pemanfaatan informasi yang sudah dilakukan oleh Ditjen Hortikultura, tercatat bagaimana dapat memprediksi dampak perubahan iklim yang akan terjadi pada dua sampai tiga bulan ke depan serta memberikan rekomendasi kepada Direktorat Teknik untuk mengantisipasi hal yang akan terjadi dan diakibatkan oleh perubahan iklim," ujarnya.

Sisi Positif

Sementara itu, Pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Andi Trisyono, menyebutkan tanaman hortikultura bawang merah dan cabai adalah beberapa contoh tanaman hortikultura yang mudah mengalami rusak berat apabila terdampak perubahan iklim.

"Pernah suatu ketika bawang merah berumur 40 hari dalam satu kelompok tani seluas 20 hektar, awalnya tanaman masih berwarna hijau tiba-tiba terserang beberapa hama akibat datangnya perubahan iklim," ujarnya.

Meski demikian, Andi mengatakan adanya perubahan iklim tidak selalu berdampak negatif. Iklim dapat pula bermanfaat pada pengelolaan OPT, seperti ramalan musim sebagai pemilihan varietas tanaman yang cocok dengan kondisi lingkungan tertentu.

Selain itu, untuk mengetahui kelembapan udara untuk memanipulasi kondisi lingkungan penanam. Suhu udara pada kondisi iklim tertentu dapat menyinkronisasikan waktu penyemprotan pestisida serta prediksi hujan dan kecepatan angin untuk mengetahui pemilihan formulasi pestisida.

Adapun untuk mengupayakan dampak perubahan peran iklim dalam pengelolaan tanaman hortikultura agar tetap stabil dan meminimalisasi dampak buruknya perlu adanya beberapa cara yang berkesinambungan, termasuk melakukan pengawasan dan menentukan model pengemabangan.

" Monitoring (pengawasan) itu tetap penting, tentunya dengan teknologi saat ini kita bisa memasang sensor agar dapat terus memantau suhu, kelembapan dan faktor lainnya dalam pengelolaan secara realtime . Oleh sebab itu, perlu dikembangkan model yang bisa digunakan modifikasi, praktik-praktik pengelolaan hama khususnya dikaitkan dengan permasalahan iklim," terangnya.

Artikel Asli