Kualitas dan Kuantitas Turun, Petani Tembakau Dibayangi Kerugian

lombokpost | Ekonomi | Published at 15/09/2021 12:15
Kualitas dan Kuantitas Turun, Petani Tembakau Dibayangi Kerugian

MATARAM -Curah hujan tinggi membuat mutu daun tembakau menurun. Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) NTB menilai, hal ini memperbesar kekhawatiran petani akan penurunan pendapatan, hingga merugi.

Selain penurunan kualitas, produktivitas tembakau juga mengalami hal yang sama. Tahun 2019 petani mampu memproduksi 1,8 -2 ton per hektare, diperkirakan tahun ini hanya 1,5 ton saja dengan kualitas yang tak sebagus biasanya. Petani mewanti-wanti perusahaan mitra tak menurunkan jumlah pembeliannya. Kualitas dan kuantitas berkurang karena memang gangguan alam, kata Ketua APTI NTB Sahminuddin, (13/9).

Belum lagi rencana pemerintah menaikkan cukai rokok tahun depan dengan alasan mengendalikan konsumsi rokok dalam negeri. Rencananya, besaran tarif kenaikan cukai bakal diumumkan setelah APBN 2022 diketok palu oleh wakil rakyat.

Namun tarif baru tersebut baru keluar pada Oktober 2021 mendatang. Memang, hal ini ditujukan agar para pengusaha hasil tembakau dapat mempersiapkan kenaikan yang baru. Sayangnya, hal ini membuat pengusaha juga turut menahan daya belinya terhadap produksi tembakau petani. Menunggu kesiapan target produksi rokoknya di tahun 2022.

Pemerintah pusat harus umumkan lebih cepat lebih baik agar perusahaan tak ragu dalam membeli tembakau petani, tegasnya.

Nasib yang lebih bagus dialami petani yang sudah bermitra dengan perusahaan. Selain terserapnya produksi, kebutuhan pupuk juga telah disuplai. Namun lain halnya dengan petani swadaya yang masih harus bergantung pada pupuk yang disediakan pemerintah. Harganya pun naik tiga kali lipat.

Pemerintah menaikkan CHT tanpa lihat pertumbuhan ekonomi. Saat ini semuanya negatif dan daya beli dan konsumsi masyarakat terhadap rokok berkurang tapi harga harus naik, katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB Muhammad Riadi mengungkapkan, saat ini baru ada tujuh perusahaan yang melakukan realisasi pembelian tembakau. Diantaranya PT Bentoel sebanyak 900 ton. PT Djarum 173,38 ton, CV Alinasi One Indonesia 81,70 ton, juga CV Budi Jaya Sentosa dan CV Maruta Ajitama 37,60 ton.

Berikutnya, Andalan Tani Nelayan 150 ton serta PT Indo Kasturi Perkasa 200 ton. Masih ada 15 perusahaan lain yang masih menunggu realiasi dari rencana pembeliannya selama 2021. Memang sedari awal rencana pembelian dari perusahaan mitra turun dibanding tahun lalu, jelasnya.

Terkait penurunan mutu tembakau petani akibat curah hujan tinggi, ia menilai petani tak perlu risau. Sebab hal itu hanya untuk daun tembakau di bagian bawah. Daun bagian tengah dan atas cenderung normal. Hanya saja memang terjadi penurunan harga dari tahun lalu Rp 8-12 ribu. Kini hanya terjual Rp 4-8 ribu. Namun mesti diingat, bahwa daun bawah tersebut hanya mengisi 12 persen dari keseluruhan proses produksi. Alias tak banyak digunakan dibanding bagian daun tembakau yang lain. Jadi sebenarnya petani tak rugi. Modal tetap kembali,Cuma keuntungannya saja yang berkurang dibanding tahun lalu, ungkapnya. (eka/r9)

Artikel Asli