Sri Mulyani Beberkan 7 Agenda Prioritas di KTT G20, Begini Rinciannya

limapagi.id | Ekonomi | Published at 15/09/2021 05:05
Sri Mulyani Beberkan 7 Agenda Prioritas di KTT G20, Begini Rinciannya

LIMAPAGI - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut poin utama agenda jalur keuangan atau finance track dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) G20 di Indonesia pada 1 Desember 2021 hingga 30 November 2022 mendatang.

Adapun fokusnya adalah penanganan isu-isu global yang terjadi.

"Agenda di finance track yang akan dibahas kita nanti ada tujuh agenda, katanya dalam konferensi pers tentang Presidensi Indonesia di G-20 Tahun 2022, Senin malam, 14 September 2021.

Agenda pertama adalah koordinasi kebijakan global dalam memulihkan ekonomi termasuk terkait exit policy atau pengurangan intervensi kebijakan makro yang luar biasa dan tidak sustainable secara bertahap dan terkoordinasi oleh negara anggota G20.

Ini bukan masalah mudah, setiap negara memiliki kondisi yang berbeda-beda. Kebijakan fiskal seperti di Indonesia yang extraordinar, di mana kita membolehkan adanya defisit di atas 3 persen ini tidak berjalan selamanya. Semua negara juga menghadapi situasi yang sama di kebijakan fiskal, ungkap Sri Mulyani.

Ia menuturkan di KTT G20 tiap negara akan bersama-sama mulai melakukan kebijakan exit, di mana inti pertimbangannya adalah setiap negara memiliki pemulihan ekonomi yang berbeda-beda baik dari sisi kecepatan maupun dari sisi pemerataan pemulihan.

Agenda kedua adalah terkait dampak pandemi Covid-19 di bidang kesehatan maupun perekonomian seperti adanya supply disruption dan korporasi yang mengalami kesulitan neraca.

Pembahasan productivity dan memulihkan ekonomi kembali serta bagaimana policy didesain akan jadi bahan kedua di finance track, katanya.

Fokus ketiga soal central bank digital currency (CDBC), yaitu penyusunan prinsip umum pengembangan CBDC yang meliputi lima bidang utama yaitu implikasi terhadap fungsi bank sentral dan implikasi terhadap transmisi kebijakan moneter.

Implikasi selanjutnya adalah ke stabilitas sistem keuangan, kebutuhan desain dan teknologi, serta aspek lintas batas.

Prinsip-prinsip ini dipersiapkan untuk memberikan pedoman dalam pengembangan CBDC termasuk operasionalisasi dalam mendukung transaksi lintas batas.

Keempat adalah sustainable finance yaitu peran sektor keuangan dalam mendukung agenda-agenda penting di level global seperti climate change dan green finance facility yang bertujuan untuk menciptakan transformasi ekonomi hijau dan berkelanjutan.

Juga akan dibahas mengenai bagaimana digital infrastructure regulation dalam rangka untuk meningkatkan leverage dan mobilisasi private sector investment, jelasnya.

Kelima adalah cross border payment yaitu diskusi tentang manfaat optimalisasi digitalisasi dalam meningkatkan produktivitas serta mengatasi potensi risiko dan tantangan yang ditimbulkannya.

Agenda kelima ini juga mengenai peningkatan sistem pembayaran khususnya kemajuan pembayaran lintas batas untuk mendorong pembayaran yang cepat, murah dan transparan.

Keenam adalah inklusi keuangan yang meliputi digital dan UKMM yakni fokus pada pemanfaatan open banking untuk mendorong produktivitas serta mendukung inklusi ekonomi dan keuangan termasuk aspek lintas batas.

Ini adalah topik yang sangat penting bagi Indonesia dan relevan. Ini akan menjadi prioritas pada pembahasan G20, tegasnya.

Agenda terakhir adalah mengenai kemajuan dan pelaksanaan dari persetujuan dan perkembangan global taxation principle termasuk terkait insentif pajak.

Kemudian juga digitalisasi perpajakan, praktik penghindaran pajak atau tax avoidance terutama berkaitan dengan base erosion and profit shifting (BEPS), transparansi pajak dan kepastian pajak.

Sri Mulyani menyebut pajak merupakan kebijakan yang sangat penting dan menjadi menu utama dalam pertemuan G20.

Reformasi di bidang perpajakan akan menjadi menu utama karena memang ini merupakan salah satu menu prioritas yang penting bagi Indonesia yang sekarang juga sedang melakukan reformasi perpajakan, tandasnya.

Artikel Asli