Hidupkan Industri Kecil Menengah, KIH dan Gerbang Esa Solusinya

lombokpost | Ekonomi | Published at 14/09/2021 12:26
Hidupkan Industri Kecil Menengah, KIH dan Gerbang Esa Solusinya

MATARAM -Kawasan Industri Halal (KIH) melalui pengelolaan Gerakan Membangun Ekonomi Indonesia (Gerbang Esa) diyakini baik. Terutama untuk membangkitkan iklim Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) serta Industri Kecil Menengah (IKM) lokal.

Hal ini disampaikan Pengamat Ekonomi Universitas Mataram Abdul Azis Bagis, Senin (13/9). NTB yang didapuk sebagai pilot project pun tak boleh menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ini berbeda dengan industri halal yang dibentuk sebelum-sebelumnya, katanya.

Melalui KIH dan Gerbang Esa, program unggulan industrialisasi NTB diharapkan dapat benar-benar terwujud. Terlebih upaya ini sudah ditopang dua upaya sekaligus.

Pertama, NTB yang sudah memiliki sistem digitalisasi yang dapat terus di-update seiring. Kedua, kesiapan pemetaan kondisi UMKM maupun IKM yang berbeda-beda. Kondisi mereka saat ini berada pada tiga zona. Zona tidak baik atau merah, zona sedang aliasi kuning, serta zona baik yang diibaratkan warna hijau. UMKM dan IKM yang masih berada pada zona merah harus mendapat dukungan pembiayaan yang dapat memanfaatkan dana sosial atau zakat sehingga tak menjadi beban baru. Sementara mereka yang ada di zona kuning diperlukan sedikit perbaikan dan didongkrak untuk mampu menjadi klaster usaha di zona hijau. Mereka yang ada di zona hijau pun dapat lebih mudah dikaitkan dengan pemilik modal atau investasi.

Struktur yang jelas dan pemetaan yang riil ini yang amat membantu, katanya.

Ia menilai, aktivitas ini dilandasi oleh sistem keyakinan atau dikenal sebagai protokol langit. Artinya, semua kegiatan yang berorientasi pada kepentingan orang banyak dengan cepat mendapat kemudahan implementasi. Jaminan untuk sukses bagi program ini amat besar, ujarnya antusias.

Kepala Dinas Perindustrian NTB Nuryanti mengatakan, hingga akhir tahun mendatang pemerintah akan berfokus pada pondasi pembangunan KIH. Diantaranya regulasi, pembangunan ekosistem industri, serta intervensi keberagaman komoditas UMKM demi memenuhi kebutuhan lokal dan kesinambungan pasar. Nantinya hal ini akan bermuara pada kebutuhan akan kawasan industri yang kondusif bagi IKM untuk terus berproduksi.

Sulit untuk mampu memenuhi pasar lokal kalau mereka masih berproduksi skala kecil atau rumah tangga, jelasnya.

Sektor yang digenjot diantaranya industri makan minum yang memiliki target ekspor lebih besar. Juga industri yang mampu memenuhi kebutuhan lokal untuk mendorong substitusi impor. Ada juga beragam turunan produk yang punya prospek cemerlang masa depan. Sekarang kita buka kawasannya di KIH, nanti IKM-IKM yang didorong naik kelas itulah yang akan mengisi, imbuhnya. (eka/r9)

Artikel Asli