Blusukan di Pasar Eropa demi Berantas Diskriminasi Sawit

wartaekonomi | Ekonomi | Published at 14/09/2021 07:56
Blusukan di Pasar Eropa demi Berantas Diskriminasi Sawit

Praktik diskriminasi produk pangan masih terjadi di beberapa negara di Uni Eropa, termasuk untuk kelapa sawit. Sekelompok pengusaha ditengarai melakukan kampanye negatif terhadap produk turunan sawit.

Dubes RI untuk Kerajaan Belgia, Keharyapatihan Luksemburg, dan Uni Eropa, Andri Hadi, mengatakan, di antara upaya untuk memojokkan sawit yang terjadi di Eropa adalah pencantuman label no palm oil di kemasan produk yang dijual di supermarket.

"Itu sebabnya saya selalu perintahkan staf kita di kedubes, kalau belanja ke supermarket harus blusukan. Telusuri produk-produk yang dipajang, apakah ada yang mencantumkan label no palm oil atau tidak. Ini penting dilakukan karena mereka sangat gencar melakukan gerakan antisawit ini di kalangan masyarakat mereka," katanya dalam INAPalmoil Talkshow yang mengangkat tema The Fact of Indonesian Deforestations Rate pada Rabu (8/9/2021).

Menurutnya, perintah tersebut sangat serius dan mutlak harus dilakukan para staf Kedubes RI di Uni Eropa. Pasalnya, Andri sendiri sudah beberapa kali menemukan praktik diskriminasi tersebut. Setelah ditelusuri, kebanyakan produk yang mencantumkan label no palm oil ternyata memiliki kaitan dengan produk minyak nabati nonsawit atau produk dari perusahaan asal Eropa.

"Jika menemukan produk-produk yang mencantumkan label no palm oil di supermarket atau pusat perbelanjaan di wilayah tugas saya, segera saya surati pihak produsen produk tersebut," jelasnya.

Jika tidak diindahkan, Andri mengancam akan membawa persoalan tersebut ke jalur hukum. "Kami telah menyiapkan barisan lawyer untuk menghadapi diskriminasi perdagangan ini," ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan Andri, "Saya sendiri pernah berdebat dengan para produsen di Eropa yang menerapkan label no palm oil di produk mereka. Saya katakan ke mereka, mau pakai minyak sawit atau tidak, enggak perlu mencantumkan label seperti itu. Berdagang ya berdagang saja."

Artikel Asli