Harga Minyak Dunia Naik ke Level Tertinggi dalam 6 Pekan

okezone | Ekonomi | Published at 14/09/2021 06:42
Harga Minyak Dunia Naik ke Level Tertinggi dalam 6 Pekan

JAKARTA - Harga minyak dunia naik ke level tertinggi enam minggu pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa pagi WIB). Harga minyak naik karena produksi AS masih lambat untuk kembali normal dua minggu setelah Badai Ida menghantam Pesisir Teluk dan kekhawatiran badai lain dapat mempengaruhi produksi di Texas minggu ini.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November terangkat 59 sen atau 0,8%, menjadi menetap di USD73,51 per barel, merupakan penutupan tertinggi sejak 30 Juli.

Sementara itu harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober bertambah 73 sen atau 1,1%, menjadi berakhir di USD70,45 per barel, merupakan penutupan tertinggi sejak 3 Agustus.

Kenaikan harga minyak terjadi meskipun Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas perkiraan permintaan minyak dunia untuk kuartal terakhir 2021 karena varian Delta Virus Corona.

Dampak Badai Ida berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan pasar dan karena beberapa kapasitas produksi minyak masih ditutup minggu ini, harga-harga naik karena pasokan belum dipulihkan dan sehingga tidak mencapai kilang-kilang yang telah memulai kembali operasi lebih cepat daripada para produsen, kata Analis Pasar Minyak Rystad Energy, Nishant Bhushan.

Gangguan lebih lanjut dari cuaca buruk yang mungkin sudah dekat, dengan Pusat Badai Nasional AS memproyeksikan Badai Tropis Nicholas akan menghantam sepanjang pantai Texas Selatan pada Senin waktu setempat dan mendarat di dekat Corpus Christi malam hari.

Royal Dutch Shell mulai mengevakuasi staf dari anjungan minyak Teluk Meksiko AS dan perusahaan-perusahaan lain mulai bersiap menghadapi angin topan.

Meskipun OPEC mengatakan pemulihan permintaan minyak lebih lanjut akan tertunda hingga tahun depan ketika konsumsi akan melebihi tingkat pra-pandemi, analis mencatat OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, masih meningkatkan produksi.

Artikel Asli