Pemerintah Harus Perketat Impor Baja

koran-jakarta.com | Ekonomi | Published at 13/09/2021 08:29
Pemerintah Harus Perketat Impor Baja

JAKARTA - Pemerintah dinilai perlu memperkuat proteksi industri baja nasional, termasuk PT Krakatau Steel, yang dinilai mampu memenuhi permintaan dalam negeri. Hal itu dimaksudkan untuk merealisasikan kemandirian industri baja Indonesia.

"Untuk mencapai kemandirian industri baja di Indonesia sudah sepatutnya pemerintah turut mendukung pengetatan impor baja melalui kebijakan-kebijakan yang berpihak pada industri nasional, seperti antidumping baja, pegawasan barang masuk di pelabuhan," kata Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Maman Abdurahman, dalam keterangannya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Maman mengapresiasi upaya manajemen Krakatau Steel dalam memperbaiki kinerja perseroan dari yang sebelumnya merugi menjadi perusahaan baja yang untung pada 2020. Dia berharap BUMN baja tersebut mengimplementasikan teknologi industri 4.0 pada produksinya.

Maman mendorong partisipasi sebesar-besarnya dari seluruh pihak untuk menghidupkan industri baja dalam negeri sebagai salah satu sektor strategis dalam menopang kebutuhan bahan baku bagi industri lainnya.

Sementara itu, Anggota Komisi VII DPR RI, Abdul Kadir Karding, mendesak pemerintah perlu membuat semacam regulasi impor terkait bahan baku yang bisa diproduksi dalam negeri. "Pemerintah harus buat aturan semacam proteksi, paling tidak bahan-bahan impor ini tidak membanjiri pasar kita yang bisa kita produksi sendiri," ujar Karding.

Karding berpendapat permasalahan ini terjadi karena masih banyaknya bahan baku impor yang masuk ke pasar tanpa memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI). Akibatnya, bahan baku impor memiliki harga yang lebih murah dari bahan baku produksi domestik.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan pemerintah akan memperketat komitmen Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri untuk industri baja sehingga dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Menperin berpendapat impor baja nasional saat ini cukup terkendali secara pasokan dan permintaan. Adapun kenaikan harga baja konstruksi diketahui karena adanya kenaikan harga baja dunia. Dia mengungkapkan neraca perdagangan baja pada semester I-2021 surplus 2,7 miliar dollar AS dengan nilai ekspor 9,4 miliar dollar AS dan impor 6,7 miliar dollar AS.

Efisiensi Bisnis

Sementara itu, Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim, mengatakan pihaknya berkomitmen mendorong kemajuan perusahaan agar makin kompetitif. Menurutnya, Krakatau Steel telah berhasil menurunkan biaya operasi sebesar 28 persen sehingga mampu melakukan penghematan sebesar 1,9 triliun rupiah dan mencetak laba sebesar 333,5 miliar rupiah pada 2020. Hasil transformasi dan efisiensi yang dilakukan menunjukkan perbaikan positif.

"Optimalisasi penggunaan biaya operasional untuk aktivitas produksi dan peningkatan kinerja anak perusahaan termasuk pengembangan bisnis sangat berpengaruh memberikan kontribusi peningkatan kinerja Krakatau Steel," ujar Silmy.

Silmy mengatakan volume impor baja pada 2020 masih cukup tinggi, yaitu sebesar 4,77 juta ton. Hingga semester I-2021, volume impor baja mencapai 3,05 juta ton, mengalami kenaikan sebesar 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Artikel Asli