Cukai Hasil Tembakau Naik, Ancam Peritel

lombokpost | Ekonomi | Published at 09/09/2021 13:50
Cukai Hasil Tembakau Naik, Ancam Peritel

MATARAM -Kenaikan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) mulai diwanti-wanti. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menilai, kenaikan tarif tersebut makin menekan industri hasil tembakau. Tak hanya di hulu seperti petani dan pabrikan, tapi dampaknya juga akan terasa sampai ke hilir seperti pedagang ritel dan konsumsen.

Distribusi rokok di Indonesia mayoritas dilakukan melalui jaringan ritel maupun IKM. Kalau harga rokok semakin tinggi pasti ritel ini ikut merasakan dampaknya, tegas Ketua Aprindo Abdul Azis Bagis, Rabu (8/9).

Berdasar data nasional kata dia, mayoritas perokok di Indonesia merupakan mmasyarakat kelas menengah bawah. Saat ini kalangan tersebut juga sedang kesulitan ekonomi dan penekanan daya beli akibat pandemi. Akibatnya kenaikan CHT akan semakin berdampak buruk pada mereka yang menjadikan rokok sebagai konsumsi primer.

Celakanya, ritel di NTB lebih banyak berorientasi pada pemenuhan kebutuhan primer masyarakat golongan menengah bawah. Sehingga hal ini ini tidak hanya melemahkan daya beli konsumen namun pada satu masa juga akan turut mempengaruhi daya jual pedagang.

Harusnya peritel ini dibantu, bukan semakin disulitkan dengan kenaikan CHT, imbuhnya.

Meski demikian, pihaknya mengakui adanya pengecualian untuk kenaikan CHT. Jika tujuannya memang untuk mengedukasi masyarakat dalam membangun kesehatan dan lingkungan, hal ini dapat dibenarkan. Dengan catatan ada keterbukaan informasi yang diberikan pemerintah pada masyarakat tersemasuk pelaku ekosistem tembakau. Namun jika kenaikan CHT hanya untuk menaikkan pendapatan negara, hal ini justru dirasa kurang tepat dilakukan saat ini. Sebab tak hanya pemerintah, seluruh kalangan masyarakat pun saat ini kini tengah berjuang mempertahankan pendapatan.

Malah dapat menimbulkan kontroversi, katanya.

Sarannya, kenaikan CHT ditunda sampai aktivitas ekonomi benar-benar pulih. Kalau dihapus kan tidak bisa. Jadi Aprindo menilai sebaiknya ditunda saja, paparnya.

Pemilik Berkah Citra di Ampenan, Handayani mengatakan, dampak kenaikan tarif CHT pasti ada, namun diyakini tak akan signifikan. Sebab, rokok sudah menjadi kebutuhan sebagian masyarakat. Sehingga meskipun harganya naik, tetap akan dicari. Seringkali naik juga harganya dari dulu, tapi tetap saja ada yang beli, ujarnya yakin.

Menurutnya, memang dirasakan adanya sedikit penurunan penjualan sejak pandemi. Tapi hal ini tak lantas membuat pembelian rokok terhenti. Menyiasati mahalnya harga rokok, kebanyakan konsumen membelinya secara eceran. Paling biasa beli tiga hingga empat batang, atau lima ribuan, imbuhnya. (eka/r9)

Artikel Asli