Perdagangan Internasional Diramal Balik ke Sistem Barter, Kok Bisa?

limapagi.id | Ekonomi | Published at 09/09/2021 08:12
Perdagangan Internasional Diramal Balik ke Sistem Barter, Kok Bisa?

LIMAPAGI - Institute for Development of Economic and Finance (Indef) memperkirakan pola perdagangan internasional akan bergeser menjadi sistem barang tukar barang atau barter di masa depan.

Rantai pasok global atau global value chain (GVC) diperkirakan akan mengadopsi sistem ini dan mulai dilakukan uji coba di beberapa negara.

Ekonom senior Indef, Aviliani, menjelaskan pergeseran tren barter terjadi karena adanya perang dagang antara dua negara besar China dan Amerika Serikat.

Untuk memuluskan perdagangan tanpa ada bea masuk tambahan, sebagian besar negara lain harus membuat perjanjian terlebih dahulu.

"Arah kebijakan setiap negara itu pada akhirnya harus melakukan yang namanya global value chain dan juga harus bicara tentang apa yang kita punya dan apa yang mereka punya. Jadi era barter itu sudah mulai terjadi di beberapa negara," ujar Aviliani dalam dialog daring di Jakarta, Rabu, 8 September 2021.

Menurutnya, salah satu komoditas yang telah dilakukan uji coba perdagangan internasional dengan sistem barter yakni sawit.

Adapun sistem barter sendiri telah ada jauh sebelum adanya manusia modern yang mengenal uang sebagai alat pembayaran yang sah.

"Perdagangan internasional berubah, bukan berubah tapi malah menurut saya ini kembali ke zaman dulu modelnya. Dulu kan pesawat ditukar dengan beras ketan. Itu yang akan terjadi ke depannya," imbuhnya.

Untuk skema bareter, kata Aviliani, pemerintah harus mencari pasarnya terlebih dahulu sebagai tempat menukarkan komoditas.

Setelah itu, lantas kemudian memproduksi barang dengan kualitas yang sama untuk ditukarkan dengan komoditas lain.

Jadi tidak bisa lagi kita bikin apa, baru kita cari pasar. Tapi kita harus mencari pasarnya dulu, baru (menentukan) apa yang mau kita lakukan di dalam negeri yang kita punya daya kompetitif yang tinggi," tuturnya.

Aviliani menambahkan, dengan adanya tren perubahan perdagangan internasional ini, pemerintah hsrus memberdayakan para duta besar Indonesia untuk mendapatkan informasi peluang ekspor.

"Karena duta besar yang bagus menurut saya itu yang mampu untuk memberikan informasi ke Indonesia mengenai apa sih produk yang dibutuhkan di sana dan kita punya daya saing atau sebaliknya," pungkasnya.

Artikel Asli