Pengelolaan Sektor Geothermal Terpencar, Holding BUMN Panas Bumi Diperlukan untuk Optimalkan Potensi

wartaekonomi | Ekonomi | Published at 16/08/2021 15:43
Pengelolaan Sektor Geothermal Terpencar, Holding BUMN Panas Bumi Diperlukan untuk Optimalkan Potensi

Executive Vice President Komunikasi Korporat dan CSR PLN, Agung Murdifi mengatakan pembentukan holding geothermal merupakan misi besar pemerintah untuk mengoptimalkan potensi geothermal yang dimiliki Indonesia.

Sehingga menghasilkan kemakmuran bagi negara dan masyarakat. Oleh karena itu, PLN siap mendukung holding geothermal," ujar Agung, Senin (16/8/2021).

Baca Juga: Optimalkan Pemanfaatan Panas Bumi, PLN Dukung Pembentukan Holding Geothermal Indonesia

Agung mengungkapkan selama ini pengelolaan sektor geothermal masih terpisah-pisah. Oleh karena itu, perlu untuk dikonsolidasikan sehingga menjadi proses bisnis yang terintegrasi. Selain itu, proses bisnis yang sebelumnya terpencar, melalui streamlining, menjadi dikelola dengan efektif dan efisien.

Dengan sinergi BUMN, pengelolaan geothermal yang sebelumnya dilakukan dengan modal terbatas pun, menjadi kekuatan besar di tengah persaingan global dalam rangka menjaga kepentingan nasional. Hal tersebut akan memberikan nilai tambah potensi alam Indonesia bisa semakin besar, utuh, dan membawa manfaat yang optimal.

Saat ini potensi energi panas bumi Indonesia, kata Agung, sudah mencapai 25 GW, atau setara 40 persen cadangan potensi panas bumi dunia. Namun pemanfaatannya baru sekitar 2,1 GW. Melihat besarnya potensi tersebut diperlukan upaya terobosan untuk mengakselerasi pemanfaatan panas bumi untuk pembangkit listrik.

"Dengan konsolidasi proses bisnis, akan memaksimalkan value creation untuk semua pihak yang menjadi bagian dari holding. Ujungnya, adalah keuntungan yang lebih besar bagi Pemerintah dan BUMN, yang ujungnya akan membawa manfaat bagi masyarakat," papar Agung.

Holding ini nantinya akan menjaga keterjangkauan tarif listrik bagi pelanggan PLN karena akan diterapkan efisiensi beban tambahan penyediaan tenaga listriknya.

"Maka, jika ada yang bilang kalau holding ini tidak nasionalis, justru kontradiktif. Sebelum ada rencana holding, pengelolaan yang ada terpecah-pecah, nilai tambahnya kecil, dan posisi tawar kepada stakeholder lemah," ujarnya.

Selain akan membawa manfaat ekonomi nasional, pengelolaan baru pada sektor geothermal ini juga selaras dengan upaya pencapaian target bauran energi baru-terbarukan (EBT) 23 persen pada tahun 2025 dan Carbon Neutral di tahun 2060 yang sedang menjadi fokus PLN.

Kami memahami teman-teman Serikat Pekerja yang mengkritik upaya ini. Jika kita mencoba melihat dari perspektif yang lebih besar, melalui holding, PLN dan Pertamina akan bekerja sama dan memunculkan satu kekuatan pengelolaan bersama. Justru seharusnya kita semua mendukung ini, pungkasnya.

Artikel Asli