Rugi saat Idul Adha, Peternak Sapi Minta Ini ke Pemerintah

limapagi.id | Ekonomi | Published at 20/07/2021 14:45
Rugi saat Idul Adha, Peternak Sapi Minta Ini ke Pemerintah

LIMAPAGI PerhimpunanPeternak Sapidan Kerbau Indonesia (PPSKI) mendesak pemerintah untuk membangun industri peternakan yang ramah terhadap pengusaha kecil. Pasalnya, di tengah merebaknya pandemi Covid-19 dan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat membuat penjualan turun dan merugi.

Ketua Umum PPSKI, Nanang Purus Subendro, menjelaskan hingga sekarang pemerintah terkesan selalu menyudutkan peternak jika terjadi kenaikan harga. Padahal, bantuan yang diberikan kepada peternak tidak berdampak signifikan untuk menekan biaya produksi dan penggemukan sapi.

Sekarang ada kesan bahwa ada kenaikan harga daging sebuah dosa besar dari peternak. Padahal, sekarang biaya operasional dan produksi sudah naik semua, masa harga dagingnya tak boleh naik, kata Nanang kepada Limapagi Network, Selasa 20 Juli 2021.

Menurutnya, jika dilihat dari segmen pasar daging sapi, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tidak seimbang dan cenderung merugikan peternak. Mayoritas konsumen daging sapi merupakan masyarakat berpenghasilan menengah ke atas.

Sedangkan dari sisi pertenak, kata Nanang, sebagian besar peternak sapi justru berasal dari kalangan warga menengah ke bawah atau peternak rakyat. Alhasil, modal dan biaya produksinya pun terbatas sementara harga terus digencet stabil rendah.

Produsen daging itu peternak rakyat yang notabene mereka-mereka yang membutuhkan uluran tangan dan subsidi. Masa pemerintah sangat konsen memperdulikan kenaikan harga daging tanpa memperhatikan nasib peternaknya, kata dia.

Lebih lanjut, Nanang menjelaskan momen Idul Adha tahun ini pun tidak dapat menolong para peternak untuk memetik keuntungan yang lebih tinggi. Sebab, menurunnya daya beli dan adanya kebijakan PPKM Darurat membuat penjualan sapi turun hingga 60 persen.

Sapi yang tak laku di pasaran akhirnya dikembalikan lagi ke kandang atau dijual kepada peternak penggemukan dengan kerugian mencapai 10 persen. Hal ini lantaran sapi yang dipersiapkan untuk Idul Adha tahun ini tidak dapat digunakan lagi untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban tahun 2022.

Yang sangat penting lagi adalah memberi kesempatan harga daging itu pada angka keekonomisan peternak berusaha artinya dengan harga daging yang berlaku peternak bisa hidup itu saja yang diminta, pungkasnya.

Artikel Asli