Survei Bank Indonesia: Kredit Kuartal II Tumbuh Positif

limapagi.id | Ekonomi | Published at 20/07/2021 15:55
Survei Bank Indonesia: Kredit Kuartal II Tumbuh Positif

LIMAPAGI Bank Indonesia (BI) merilis hasil survei perbankan yang dilakukan pada Juni 2021. Dalam hasil survei tersebut, secara kuartalan penyaluran kredit baru pada triwulan II atau kuartal II 2021 diindikasikan tumbuh positif.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, menjelaskan adanya indikasi itu tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) permintaan kredit baru sebesar 53 persen.

Berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan kredit baru terindikasi terjadi pada seluruh jenis kredit, tertinggi pada kredit modal kerja dengan SBT 45,0 persen, diikuti oleh kredit konsumsi dan kredit investasi dengan SBT masing-masing sebesar 31,3 persen dan 13,3 persen, kata Erwin dalam keterangannya yang dikutip pada Selasa, 20 Juli 2021.

Erwin melanjutkan, pada kuartal III 2021 penyaluran kredit baru diperkirakan akan mengalami peningkatan. Indikasi tersebut dapat terlihat dari SBT prakiraan penyaluran kredit baru sebesar 87,1 persen.

Jumlah tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan kuartal II 2021 yang mencapai 53,9 persen.

Peningkatan tersebut akan didorong oleh kredit modal kerja, diikuti oleh kredit konsumsi dan kredit investasi, sambung dia.

Untuk standar penyaluran kredit pada kuartal III 2021, diprediksi tidak seketat seperti yang terjadi pada periode sebelumnya.

Indikasi tersebut terlihat dari Indeks Lending Standar (ILS) yang mencapai 0,3 persen, lebih rendah dibandingkan pada kuartal sebelumnya sebesar 1,2 persen.

Aspek kebijakan penyaluran yang diperkirakan tidak seketat triwulan sebelumnya antara lain plafon kredit, jangka waktu kredit, perjanjian kredit, dan agunan ucapnya.

Secara keseluruhan hasil survei 2021, disebutkan terdapat indikasi responden yang optimis terhadap pertumbuhan kredit. Adapun responden memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2021 jumlahnya mencapai 6,3 persen secara year on year.

Optimisme tersebut antara lain didorong oleh kondisi moneter dan ekonomi, serta relatif terjaganya risiko penyaluran kredit, pungkas Erwin.

Artikel Asli