Jokowi Ajak Masyarakat Berinvestasi untuk Pemulihan Ekonomi

sindonews | Ekonomi | Published at 13/07/2021 12:37
Jokowi Ajak Masyarakat Berinvestasi untuk Pemulihan Ekonomi

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak masyarakat untuk melakukan investasi untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi di masa pandemi. Selama ini mayoritas struktur ekonomi yang ada masih dikontribusikan oleh konsumsi masyarakat.

Makanya Jokowi mengajak masyarakat secara perlahan untuk lebih produduktif. Pertumbuhan ekonomi di masa pandemi Covid 19 ini dapat lebih cepat teratasi dengan berinvestasi.

"Investasi merupakan kunci utama dalam akselerasi dan pertumbuhan ekonomi," tutur Jokowidalam sambutannya di acara Investor Daily Summit, Selasa (13/7/2021).

Selain itu, peningkatan investasi akan membuat Indonesia tidak sepenuhnya bergantung atau mengandalkan pada sektor konsumsi. Jadi ada pemerataan kontribusi dari setiap sektor ekonomi.

"Struktur ekonomi kita, yang selama ini lebih dari 55%nya dikontribusikan oleh konsumsi masyarakat, harus perlahan kita alihkan menjadi lebih ke produksi. Yakni dengan mendorong industrialisasi, investasi, dan meningkatkan ekspor, terlebih dalam kondisi pandemi seperti saat ini," jelas Jokowi.

Transformasi ekonomi memang dibutuhkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Misalnya dengan mengurangi impor dan meningkatkan ekspor, serta membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.

Presiden Jokowi menjelaskan, industri pengolahan saat ini mengalami peningkatan meski di tengah pandemi Covid 19, setidaknya yang tercatat pada bulan Januari hingga Mei 2021.

"Ekspor produk industri pengolahan tercatat sebesar USD66,70 miliar, atau meningkat sebesar 30,53% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2020," sambung Jokowi.

Jokowi juga mengupayakan untuk meningkatkan peran Indonesia dalam rantai pasok global. Sebabnya, potensi ekonomi digital bertumbuh cukup baik.

Tercatat selama tahun 2020 nilai transaksi digital Indonesia mencapai Rp253 triliun rupiah. Jumlah ini diprediksi akan meningkat menjadi Rp330,7 triliun pada tahun ini.

Artikel Asli